Matahari baru naik sepenggalan pada Sabtu (14/2) pagi itu. Suasana menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah sudah terasa kental di sepanjang jalur Nasional Banda Aceh-Medan. Di sisi timur Masjid Besar Taqwa Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, lalu lintas kendaraan tampak ramai. Pengguna jalan, mulai dari pedagang yang hendak menuju Kota Sigli atau Bereunuen, hingga bus dan truk besar dari Medan menuju Banda Aceh, memadati jalur tersebut.

Sekitar pukul 07.45 WIB, di tengah keramaian anak-anak sekolah SMP dan SMA Negeri Peukan Baro yang menyeberang jalan, tiga petugas kebersihan Masjid Besar Taqwa Lampoih Saka mulai sibuk beraktivitas. Tarmizi dan Zulkifli fokus membersihkan bagian dalam rumah ibadah, sementara Ajmi bertanggung jawab atas kebersihan tempat wudu, jamban, dan ketersediaan air bersih. Aktivitas mereka kali ini jauh lebih intensif dari biasanya, sebagai persiapan menyambut bulan mulia Syahrul Ramadan 1447 H/2026 M.

Pembersihan tidak hanya meliputi menyapu, membersihkan dinding, dan mengepel lantai bagian dalam masjid, tetapi juga menjangkau setiap sudut lantai dua hingga perbaikan semua kipas angin. Bagian luar masjid pun tak luput, mulai dari tempat wudu, sanitasi, kamar mandi, bak penampung, keran air, hingga seluruh halaman dan area parkir harus bersih dan rapi.

Filosofi Kebersihan dan Persiapan Ibadah

Ketua Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Masjid Besar Taqwa Lampoih Saka, Bukhari Thahir, menekankan pentingnya kebersihan sebagai bagian dari ibadah. “Ramadan bulan meningkatkan amal ibadah dan media menyucikan diri dari berbagai dosa. Membersihkan tempat ibadah mengawali menyucikan diri saat sujud kepada Ilahi. Bagaimana mengharap kesucian dari dosa kalau tempat sujud itu tidak suci. Allah mencintai keindahan, kebersihan dan kesucian,” tutur Bukhari Thahir kepada Media Indonesia.

Bukhari Thahir menjelaskan, pihaknya telah menyusun beragam agenda untuk ketertiban beribadah, dakwah, kepedulian sosial, hingga membangun kebersamaan warga. Untuk salat Tarawih, panitia telah mengatur jadwal imam dari malam pertama hingga terakhir Ramadan. “Imam dan penceramah itu ada dari ustaz setempat, ada pula yang menghadirkan dari luar kecamatan atau tim safari Ramadan tingkat Kabupaten Pidie. Bahkan untuk jadwal Imam Salat Idulfitri hingga di rumah siapa menyediakan kenduri rombongan tamu, itu sudah jelas semua,” kata Bukhari Thahir, yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie.

Pengurus masjid juga mengatur jadwal penyedia penganan berbuka puasa setiap hari bagi imam, muazin, bilal, dan jemaah salat Magrib. Pengaturan ini bertujuan menjaga ketersediaan makanan agar stabil, menghindari krisis atau pemborosan pada hari-hari tertentu. Untuk mempererat kebersamaan seluruh masyarakat dari empat desa di wilayah kemasjidan, mereka telah menetapkan satu hari khusus buka puasa bersama yang akan digelar pada pertengahan Ramadan, lengkap dengan penyembelihan kambing, nasi, lauk, dan kue khas Aceh.

“Ini membangun kekompakan warga. Agar siapa saja merasa msjid ini milik sesama dan membangun kebersamaan,” ujar Sekretaris Masjid Besar Taqwa Lampoih Saka, M Nasir Sarong.

Menjelang Lebaran Idulfitri 1447 H, pengurus remaja dan BKM masjid juga akan menyelenggarakan santunan untuk anak yatim dan fakir miskin. Hal ini dilakukan untuk meringankan beban mereka menghadapi Hari Raya Idulfitri. “Biasanya untuk anak yatim atau piyatu Rp800.000/orang. Lalu fakir miskin sekitar Rp300.000/orang,” ungkap Bukhari Thahir.

Sejarah dan Fungsi sebagai Rest Area Religi

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Masjid Besar Taqwa Lampoih Saka dibangun sekitar tahun 1967 M. Pembangunan masjid ini digagas oleh beberapa tokoh agama dan pengusaha setempat, termasuk Tengku Muhammad Husen, seorang ulama dan imam besar masjid kala itu, serta Haji Usman Malika, pemilik usaha otobus angkutan umum antarprovinsi Kurnia. Kini, masjid berlantai dua yang megah ini telah memperluas lahan pekarangan hingga mencapai 1,5 hektare. Rumah ibadah bercat putih dengan kubah kotak-kotak hijau variasi ini memiliki areal parkir kendaraan roda dua dan mobil pribadi seluas sekitar 3.000 meter persegi di halaman depan, samping selatan, dan belakang.

“Asetnya juga ada lahan sawah, toko dan kebun. Insya Allah semuanya sudah kami buat sertifikat,” kata M Nasir Sarong.

Lokasi masjid yang sangat strategis, persis di pinggir jalur Nasional Banda Aceh-Medan, menjadikannya mudah diakses bagi musafir yang ingin singgah untuk menunaikan salat. Setiap waktu salat, banyak umat muslim berhenti sejenak. Terutama saat Magrib dan Subuh, keramaian jemaah singgah menyerupai lokasi rest area. Selain tempat salat yang bersih, dihiasi tanaman bunga warna-warni dan pohon mangga yang mulai berbuah, masjid ini juga menyediakan dua kamar mandi untuk pria dan dua untuk wanita. Tersedia pula satu balai permanen berlantai keramik dan satu balai terbuka sebagai tempat istirahat sejenak.

Banyak pelintas atau musafir dari Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, bahkan dari Pulau Jawa yang bertujuan ke Banda Aceh, berhenti di area masjid ini untuk menghilangkan penat. “Kalau hari Jumat setiap pertengahan bulan balek beton ini digunakan untuk tempat pengajian majelis taklim. Di luar itu digunakan sebagai tempat istirahat,” ujar Teungku Boihaqi, pengurus pengajian Masjid Taqwa. Para musafir ini ada yang berhenti untuk salat, menghilangkan lelah, menikmati makan nasi bekal bersama keluarga, bahkan ada yang beristirahat tidur sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya.

Rencana Pengembangan dan Ajakan Donasi

Pengurus masjid memiliki keinginan besar untuk terus meningkatkan fasilitas. “Ada keinginan besar kami akan membangun rumah singgah gratis. Kalau ada tamu atau musafir perjalanan jauh dipersilahkan mengingat tanpa harus bayar. Insya Allah rencana mulai ini dikabulkan oleh Allah,” tutur Bukhari Thahir, menjelaskan bahwa rencana ini sudah dibicarakan sesama pengurus BKM.

Dalam waktu dekat, tahun 2026 ini, mereka merencanakan perluasan tempat wudu, pembangunan dua unit balai berukuran langsung untuk tempat tunggu kaum perempuan di luar masjid yang berhalangan salat, serta pembangunan jalur kendaraan di halaman depan. “Rencananya halaman itu memasang keramik atau aspal. Setelah kami berkoordinasi dengan bendahara Bapak M Jamil, bahannya sebagian sudah ada, untuk ongkos tukang belum tersedia. Kami juga membuka peluang kepada siapa yang ingin mewakaf atau mendonasikan bisa melalui nomor rekening Bank Aceh 0800 2026 1009 52 atas nama Panitia Pembangunan Masjid Besar Taqwa,” pungkasnya.