Di tengah hiruk pikuk Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menyimpan jejak sejarah panjang, Masjid Sholihin. Berdiri sejak tahun 1868, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu perjalanan dakwah Islam dan perkembangan masyarakat di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Inggris.

Masjid yang berlokasi di kawasan Tarunsakti ini tercatat sebagai masjid pertama di Pare, jauh sebelum Indonesia merdeka. Keberadaannya menjadi penanda awal penyebaran agama Islam di wilayah tersebut, yang kini telah berkembang pesat dengan berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan.

Jejak Sejarah Panjang dan Pendirinya

Penasehat Takmir Masjid Sholihin, Muhsin (72), menuturkan bahwa masjid bersejarah ini didirikan oleh seorang tokoh masyarakat bernama H. Mampuro. Meskipun minim catatan sejarah yang tersisa mengenai sosok pendirinya, kontribusinya dalam membangun masjid pertama di Pare menjadi fondasi penting bagi syiar Islam di daerah tersebut.

“Kalau berdirinya tahun 1868, jelas usianya sudah lebih dari satu abad,” ujar Muhsin, menegaskan betapa tuanya usia bangunan suci ini. Menurut cerita para sesepuh, setelah Masjid Sholihin berdiri, barulah menyusul pembangunan masjid-masjid lain di Pare, seperti masjid di daerah Singgahan, Masjid Taqwa, hingga Masjid Agung An-Nuur Pare.

Perjalanan Pengelolaan dan Transformasi

Pada awal berdirinya, pengelolaan Masjid Sholihin dilakukan secara perorangan oleh keluarga pendiri dan diwariskan secara turun-temurun. Namun, seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1962, pengelolaan masjid mengalami kendala.

“Sekitar tahun 1962 pengelolaannya sudah kurang terurus, sehingga akhirnya diberikan kepada Persyarikatan Muhammadiyah,” jelas Muhsin. Penyerahan ini bertujuan agar masjid dapat dikelola secara lebih resmi dan terorganisir di bawah naungan Muhammadiyah Cabang Pare.

Seiring bertambahnya usia, bangunan Masjid Sholihin telah beberapa kali mengalami pemugaran. Renovasi pertama dilakukan pada awal tahun 1960-an, meskipun dokumentasi bangunan asli masjid kini sudah tidak ditemukan lagi. Pemugaran kedua terjadi pada tahun 1993, saat generasi muda mulai aktif menghidupkan kegiatan masjid.

Renovasi terbesar kemudian berlangsung pada tahun 2025, yang membawa perubahan signifikan pada struktur dan desain bangunan. Muhsin menjelaskan bahwa perbaikan tersebut dilakukan karena kondisi bangunan lama sudah mulai rapuh. Dahulu, masjid ini memiliki empat pilar utama atau soko guru dari kayu bendo yang kokoh. Namun, material tersebut akhirnya diganti saat proses renovasi. Bentuk bangunan lama juga sempat hampir menjorok ke jalan sebelum akhirnya digeser ke belakang seperti posisi saat ini.

Layanan Sosial dan Keagamaan yang Berlanjut

Ketua Takmir Masjid Sholihin, Muhammad Waliudin Abdul Rohman, mengungkapkan bahwa pembangunan masjid masih terus berlanjut, khususnya untuk fasilitas tempat wudhu. “Sudah kami ikhtiarkan sekitar empat bulan lalu, tetapi dananya belum sampai separuh sehingga belum berani memulai pembangunan,” ujarnya, menggambarkan tantangan dalam pengembangan fasilitas.

Selain nilai sejarahnya, Masjid Sholihin juga dikenal dengan layanan perawatan jenazah muslim yang telah berjalan lebih dari 10 tahun. Layanan ini mencakup proses lengkap mulai dari memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga mengantarkan jenazah ke pemakaman atau kembali ke rumah duka sesuai permintaan keluarga. Layanan tersebut terbuka bagi masyarakat luas, selama jenazah beragama Islam.

Memasuki bulan Ramadan, Masjid Sholihin tetap aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian dan salat tarawih berjamaah. Kini, memasuki generasi ketiga hingga keempat dalam pengelolaan, Masjid Sholihin terus berkembang tanpa meninggalkan jejak sejarahnya. Dari bangunan kayu sederhana hingga menjadi masjid modern, tempat ibadah ini menjadi simbol perjalanan panjang dakwah dan kebersamaan umat Islam di Pare.