Turki, sebuah negara yang kaya akan sejarah dan peradaban, tak bisa dilepaskan dari pesona Masjid Hagia Sofia yang ikonik. Bangunan megah ini telah berdiri kokoh di jantung Kota Istanbul selama 1.500 tahun, menjadi saksi bisu berbagai era kekaisaran. Namun, ternyata Hagia Sofia tidak hanya satu; setidaknya ada empat bangunan serupa di Negeri Tanah Kekaisaran tersebut.

Hagia Sofia, atau yang dalam Bahasa Yunani secara harafiah berarti “Kebijaksanaan Suci”, memiliki signifikansi teologis yang erat dengan Yesus Kristus sebagai hikmat Allah dalam Kekristenan awal. Selain di Istanbul (termasuk Little Hagia Sofia), bangunan bernama sama juga ditemukan di Iznik, Provinsi Bursa, serta di Edessa, Provinsi Sanliurfa.

ANTARA, bersama AirAsia X dan Badan Pariwisata Turki (TGA), berkesempatan mengunjungi dua di antaranya: Hagia Sofia nan akbar di pusat Kota Istanbul, dan Hagia Sofia yang kaya akan sejarah di Iznik, bagian Asia dari Turki.

Masjid Agung Hagia Sofia Istanbul

Langit mendung yang menyelimuti Istanbul pada pekan awal Februari 2026 serasa menyatu dengan warna abu dan cokelat pucat yang dominan pada bangunan Hagia Sofia. Sejumlah pekerjaan pemugaran dan renovasi terlihat di bagian luar bangunan yang begitu agung. Namun, hal itu tidak mengadang pengunjung untuk menyambangi bangunan yang dulunya merupakan gereja Kristen terpenting era Kekaisaran Romawi Timur ini.

Kawasan yang dibangun oleh Kaisar Justinian 15 abad yang lalu ini mudah dikenali dengan kubahnya yang besar, salah satu contoh paling awal penggunaan pendentif dalam dunia arsitektur. Kemegahan Hagia Sofia semakin terasa ketika melangkahkan kaki ke dalamnya. Motif, pola, dan kaligrafi bernuansa Islami dapat ditemukan di atas kepala, hingga sejauh mata memandang. Motif-motif tersebut merupakan babak baru dari Hagia Sofia, di mana Mehmed II mengubahnya dari gereja menjadi masjid.

Meski tertutupi oleh pola Islam, sejumlah mosaik emas peninggalan Romawi Timur telah ditemukan kembali dan bertahan selama berabad-abad. Salah satu mosaik legendaris di dalam Hagia Sofia adalah Mosaik Deisis, yang masih bisa dilihat jelas oleh para wisatawan di bagian atas atau museum bangunan. Dalam seni Bizantium dan ikonografi Ortodoks Timur, “Deisis” adalah representasi ikonik tradisional Kristus dalam Kemuliaan yang diapit oleh Perawan Maria dan Santo Yohanes, serta terkadang santo atau malaikat lainnya. Maria dan Yohanes, serta tokoh-tokoh lainnya, digambarkan menghadap ke arah Kristus dengan tangan terangkat berdoa untuk umat manusia.

Tidak mengherankan apabila decak kagum terus terdengar dari orang yang memandang mahakarya abad ke-6 tersebut. Hagia Sofia pun terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985, sebagai bentuk nyata penghormatan terhadap selera seni dan arsitektur Romawi Timur dan Kekaisaran Ottoman.

Hagia Sofia beroperasi sebagai sebuah masjid sejak tahun 2020 dan menjadi salah satu proyek konservasi terbaru Turki. Banyak penggalian arkeologi dan proyek restorasi telah dilakukan untuk memastikan keberlanjutan warisan budayanya. Pekerjaan terbaru berfokus pada kubah Hagia Sofia untuk membuatnya lebih tahan lama sekaligus mempertahankan bentuk aslinya, serta mencakup konservasi mosaik di permukaan interior kubah.

Masjid Hagia Sofia Iznik

Cuaca cepat berubah hangat ketika bertolak dari Istanbul menuju Provinsi Bursa, yang juga terletak di bagian barat laut Turki. Lokasinya yang berada tepat di sisi Asia dari Laut Marmara, membuat letak Bursa jauh lebih dekat ke Asia daripada Eropa. Meskipun berada di wilayah Marmara yang berfungsi sebagai jembatan antara benua, kota ini terletak di Anatolia atau Turki yang lebih dekat dengan benua Asia.

Pelancong hanya memerlukan waktu 1 hingga 2 jam saja dengan mobil untuk berwisata ke Bursa, atau lebih tepatnya ke Iznik, yang terkenal akan produksi zaitun, industri tembikar dan keramik, serta salah satu kota penting dalam Kekaisaran Ottoman. Berbeda dengan Istanbul yang begitu sibuk, daya tarik Iznik berada dalam kepadatan penduduk lokal yang terasa lekat namun tenang.

Meski berbagi nama yang sama, Hagia Sofia di Iznik sangat kontras dari apa yang dijumpai di Istanbul. Bangunannya tergolong cukup kecil, didominasi dengan warna cokelat dan bata yang terlihat tua tapi tetap kokoh dan terawat. Masjid Hagia Sofia Iznik dibangun pada abad ke-7 atau era Romawi Timur sebagai basilika. Di sejumlah sisi dalam bangunan, masih tersisa peninggalan yang identik dengan gereja Kristen, seperti mosaik hingga undakan yang dulunya menjadi area paduan suara.

Namun, Hagia Sofia di Iznik sempat runtuh saat gempa bumi menghantam kawasan ini, dan kemudian direnovasi serta dipulihkan kembali. Pada tahun 1331, Orhan Gazi mengubah Hagia Sofia menjadi sebuah masjid setelah ia menaklukkan Iznik. Renovasi masjid pun dilakukan oleh arsitek di era Ottoman yang terkenal, Mimar Sinan, selama pemerintahan Sultan Suleiman I, yang juga dikenal sebagai Suleiman Agung.

Meskipun berbeda, Hagia Sofia di Iznik dan Istanbul memiliki sejumlah persamaan. Tak hanya diubah menjadi masjid, bangunan ini juga menyimpan begitu banyak kekayaan seni dan sejarah seiring dengan upaya restorasi dari tahun ke tahun. Dalam pekerjaan restorasi yang dilakukan pada tahun 1935 dan 1953, mosaik lantai berwarna-warni dan tempat duduk setengah lingkaran yang digunakan oleh petinggi agama dalam upacara keagamaan ditemukan di masjid tersebut.

Tidak memerlukan banyak waktu untuk mengelilingi Hagia Sofia di Iznik. Seiring dengan langkah yang perlahan menaiki undakan tangga menuju area ibadah, azan berkumandang di tengah hari, menandakan waktu salat zuhur bagi umat Muslim. Di sinilah keajaiban lainnya dari Hagia Sofia — baik di Istanbul maupun Iznik — turut menggetarkan hati bagi siapa pun yang memasukinya. Di dua Hagia Sofia ini, doa-doa dan pujian kepada para nabi serta Sang Ilahi masih terus terpanjat ke langit hingga kini, di dalam bangunan yang tetap menyimpan sisa-sisa sejarah dan nilai Kristiani.