Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menegaskan komitmen kuat negaranya untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka. Marles menyatakan bahwa gangguan pelayaran di jalur strategis tersebut berdampak signifikan pada pasokan bahan bakar global.
“Kami sangat berkomitmen untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka dan rantai pasokan bahan bakar global kembali normal,” ujar Marles seperti dikutip Sky News Australia pada Rabu, 15 April 2026.
Marles menjelaskan bahwa Australia tengah bekerja sama dengan mitra-mitranya untuk menemukan cara terbaik dalam berkontribusi pada upaya menjaga Selat Hormuz. Namun, ia menekankan bahwa partisipasi Australia memiliki syarat.
“Kita perlu melihat apa yang terjadi selama periode sisa gencatan senjata dan bagaimana keadaan di Selat Hormuz, yang memungkinkan beberapa upaya untuk dimulai,” tambahnya.
Australia hanya akan berkontribusi pada upaya pembukaan kembali Selat Hormuz jika gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel disepakati menjadi permanen. Canberra juga dijadwalkan akan berpartisipasi dalam pertemuan tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh Inggris dan Prancis akhir pekan ini. Pertemuan tersebut akan membahas perlindungan lalu lintas kapal di jalur perairan vital tersebut.
Sebelumnya, Iran telah membatasi akses ke Selat Hormuz sejak 28 Februari, menyusul pecahnya perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Selat ini merupakan jalur krusial yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia.
Sebagai respons, Amerika Serikat memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah perundingan di Pakistan yang bertujuan mengakhiri konflik gagal mencapai kesepakatan. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa blokade akan diberlakukan “dengan tidak membeda-bedakan kapal-kapal dari semua negara” yang singgah di pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman.
CENTCOM juga menambahkan bahwa kebebasan pelayaran melalui Selat Hormuz menuju pelabuhan selain Iran tidak akan terpengaruh oleh blokade tersebut.
