Jejak pemikiran dan keteladanan hidup Buya Ahmad Syafii Maarif kembali dihidupkan melalui sebuah pertunjukan seni naratif-musikal yang menyentuh. Bertajuk “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau”, pagelaran ini digelar di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang pada Minggu (31/5) malam.

Acara ini merupakan bagian dari peringatan bulan lahir sekaligus mengenang empat tahun wafatnya Buya Syafii Maarif, seorang cendekiawan muslim progresif asal Minangkabau. Pagelaran ini terselenggara atas kerja sama MA’ARIF Institute, Komunitas Talago Buni, dan ISI Padang Panjang.

Buya Syafii Maarif, yang lahir di Nagari Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935 dan wafat di Yogyakarta pada 27 Mei 2022, dikenal luas sebagai intelektual yang konsisten menyuarakan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan universal. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998–2005 dan aktif di berbagai forum internasional.

Direktur Eksekutif MA’ARIF Institute, Andar Nubowo, menjelaskan bahwa peringatan ini menjadi upaya penting untuk merawat sekaligus memperkenalkan kembali gagasan dan nilai-nilai Buya Syafii kepada generasi muda di tengah kehidupan bangsa yang majemuk. “Tema besar kegiatan tahun ini adalah Merawat Suluh, Menjaga Hati Nurani Bangsa. Kami ingin pemikiran Buya Syafi’i tetap hidup sebagai cahaya moral dan kebangsaan,” tegas Andar.

Rangkaian Kegiatan di Tiga Kota

Andar menambahkan, rangkaian kegiatan peringatan ini tidak hanya terpusat di Padang Panjang, melainkan juga digelar di tiga kota utama: Yogyakarta, Sumatera Barat, dan Jakarta.

Di Yogyakarta, MA’ARIF Institute bekerja sama dengan Kiniko Art telah membuka pameran seni rupa bertema “Suluh” sejak 23 Mei lalu. Pameran yang menghadirkan karya sejumlah seniman Indonesia yang terinspirasi dari pemikiran Buya Syafii ini akan berlangsung hingga 7 Juli 2026.

Sementara itu, di Jakarta, sebuah Pidato Kebudayaan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon akan diselenggarakan pada 18 Juni mendatang di Museum Nasional. Acara tersebut juga akan dirangkai dengan pementasan ulang pertunjukan “Bertutur tentang Guru Bangsa”.

Dalam pagelaran di Padang Panjang, Komunitas Talago Buni menampilkan sebuah pertunjukan multimedia yang memadukan pembacaan narasi, audio visual, musik kontemporer, dan idiom budaya Minangkabau. Narasi-narasi mengenai perjalanan hidup, pemikiran, dan sikap kebangsaan Buya Syafii dibacakan ulang melalui pendekatan artistik yang menyentuh.

Direktur Artistik pertunjukan, Edy Utama, mengungkapkan alasan pemilihan pendekatan multimedia ini. “Kami ingin gagasan-gagasan Buya tidak hanya hadir dalam buku dan ruang akademik, tetapi juga hidup melalui seni pertunjukan yang dekat dengan publik,” ujarnya.

Pagelaran ini juga menguatkan pandangan M. Amin Abdullah dari Universitas Gadjah Mada, yang menyebut Buya Syafii sebagai sosok muslim progresif. Menurut Amin, Buya mampu menyatukan nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal dalam satu tarikan napas.

Komunitas Talago Buni sendiri dikenal sebagai kelompok musik kontemporer yang berakar pada budaya Minangkabau. Kelompok ini telah tampil di berbagai festival seni baik di dalam maupun luar negeri, menunjukkan dedikasi mereka dalam melestarikan dan mengembangkan seni tradisi.

Pertunjukan “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau” terbuka untuk umum dan dapat disaksikan secara gratis, memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk meresapi jejak pemikiran sang guru bangsa.