Tradisi makan bersama menjadi salah satu inti perayaan Idul Fitri di Indonesia. Di tengah semaraknya hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, dan aneka lauk pauk, tersimpan sebuah jejak budaya yang lebih dalam, yakni konsep rijsttafel. Gaya penyajian makanan yang populer di era kolonial ini kini diadaptasi ulang, mengubah citra kemewahan menjadi simbol kehangatan keluarga.
Jejak Rijsttafel dalam Kuliner Nusantara
Konsep rijsttafel, yang secara harfiah berarti “meja nasi”, mulai dikenal luas pada abad ke-19. Menurut karya ilmiah Fadilla Putri Nurlitasari dari Universitas Negeri Yogyakarta (2020) berjudul “Rijsttafel di Jawa masa kolonial Belanda (1900-1942)”, penyajian rijsttafel umumnya dilakukan secara berurutan dalam porsi kecil dengan beragam pilihan hidangan. Gaya ini seringkali dikaitkan dengan status sosial orang Belanda, sekaligus menjadi bukti inspirasi budaya kolonial bagi perkembangan kuliner modern di Jawa.
Jurnal of History Education and Historiography yang dipublikasi Departemen Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Surabaya pada 2022, menyebut istilah rijsttafel baru populer di lingkungan keluarga Belanda sekitar tahun 1870-an. Konsep ini lahir dari percampuran dua budaya kuliner yang dikenal sebagai Indische Keuken. Pada abad ke-19, rijsttafel dihidangkan pada jam makan siang dengan pilihan masakan seperti nasi kukus, nasi goreng, nasi gurih, sate, dendeng, empal daging, biefstuk, ayam goreng, hingga ayam panggang. Hidangan populer lainnya termasuk nasi goreng, nasi kebuli, lontong, sup, serundeng, acar, dan kerupuk.
Mengembalikan Esensi Kebersamaan di Meja Lebaran
Meski budaya rijsttafel tidak lagi sepopuler dulu, maknanya kini bergeser. Di tangan Tri Julianto, Head Chef Sheraton Bandung Hotel & Towers, konsep ini dikembalikan pada esensi kesederhanaan dan kebersamaan. Pada momen Idul Fitri 1447 Hijriah, restoran utama di hotel tersebut mengadaptasi rijsttafel dengan sajian yang akrab di lidah masyarakat, bukan lagi tentang kemewahan kolonial, melainkan mempertemukan keakraban keluarga dalam satu meja.
Tri Julianto, yang pernah menjadi Commis Chef di JW Marriot Marquis Hotel Dubai, menjelaskan, “Terminologi rijsttafel itu sebenarnya seperti makan tengah. Semua hidangan sudah disiapkan, lalu dinikmati bersama dalam satu meja.” Ia ingin menghadirkan suasana makan yang intim layaknya di rumah sendiri, bahkan saat tamu sedang staycation.
“Jadi kehangatan saat Lebaran bisa dirasakan keluarga dengan menu yang sudah kita siapkan spesial,” tambah chef lulusan NHI tahun 2012 itu.
Ragam Hidangan Khas dengan Cita Rasa Otentik
Sajian khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, semur daging, sambal goreng kentang, telur balado, hingga sayur labu dihadirkan dalam satu set hidangan rijsttafel ini. Satu paket hidangan tersebut dirancang untuk dinikmati oleh dua hingga empat orang, lengkap dengan minuman.
Di balik ragam hidangan tersebut, kekuatan utama terletak pada bumbu. Dalam masakan Nusantara, tidak ada satu rempah pun yang bisa berdiri sendiri. Bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, hingga kemiri menjadi satu kesatuan bumbu yang tak terpisahkan. “Semua bumbu itu penting. Satu saja hilang, pasti terasa ada yang kurang,” ujar chef yang mengawali karirnya di bistro Prancis Jakarta itu.
Ketupat Lebaran yang disajikan di Sheraton Hotels and Resorts tidak sekadar tampil menarik, tetapi juga menjaga rasa yang benar-benar “Indonesia”. Cita rasa khas rumahan justru diperhatikan apa adanya, tanpa banyak diubah, meski disajikan dalam konsep yang lebih modern.
Opor ayam, hidangan Lebaran ikonik Indonesia, merupakan hasil akulturasi budaya India, Arab, dan Tionghoa. Hidangan berkuah gurih ini tercipta dari proses akulturasi selama berabad-abad. Di Indonesia, ada dua jenis opor ayam yang populer: opor ayam kuah santan putih dan opor ayam kuah kuning. Setiap varian memiliki cita rasa, warna, dan sejarah unik yang mencerminkan pengaruh budaya pembentuknya.
Kehadiran opor ayam santan putih dalam kuliner Nusantara dipengaruhi oleh budaya China, sejalan dengan teknik memasak ala Tionghoa peranakan yang mengadaptasi bahan lokal. Sementara itu, varian opor ayam berkuah kuning mencerminkan pengaruh budaya India. Di hotel ini, opor ayam yang disajikan adalah varian kuah putih.
Semur daging menghadirkan manis gurih yang meresap hingga ke dalam serat daging, sementara sambal goreng kentang dan telur balado tetap punya karakter pedas yang akrab. Aroma salam dan serai yang kuat kian menambah selera makan. Cita rasa dibuat seautentik mungkin, seperti yang biasa hadir di meja makan saat Lebaran di rumah.
Sajian rijsttafel ini tersedia untuk minimal dua orang, mulai dari 21 hingga 29 Maret 2026.
