Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa kemunculan industri berbasis sains dan teknologi merupakan kunci vital untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah menyiapkan skema pendanaan khusus melalui program riset hilirisasi.
Brian menjelaskan, program ini dirancang untuk menjembatani kebutuhan industri dengan kapasitas riset para guru besar di perguruan tinggi. “Kami di Kemendiktisaintek punya program yaitu riset hilirisasi. Jadi industri kita tanya apa kebutuhannya, apa yang mesti diriset, kebutuhan inovasi apa. Nanti kementerian akan mencarikan guru besar dan peneliti yang sesuai bidangnya,” tutur Brian.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah tak hanya mempertemukan industri dan peneliti, tetapi juga akan mendanai riset tersebut. Hal ini didukung oleh basis data perguruan tinggi dan klaster guru besar lintas kampus yang telah dimiliki kementerian.
Brian berharap, “kolaborasi ini membuat industri memiliki kekuatan inovasi sehingga produktivitas meningkat dan menjadi industri berkelas, terutama dalam mengelola kekayaan mineral dalam negeri.” Pernyataan ini disampaikan Brian dalam Seminar Nasional “Strategi Teknologi, Industri dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar Ikatan Alumni ITB angkatan 1980 (IA-ITB 80) di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Sabtu (31/1).
Tantangan Struktur Ekonomi dan Fenomena Missing Middle
Dalam forum yang sama, Tim Ahli Kemenko Perekonomian, Rizal Affandi Lukman, menyoroti tantangan struktur ekonomi Indonesia di tengah puncak bonus demografi yang diprediksi mencapai 2035-2040. Menurutnya, stabilitas makro dan fiskal saat ini belum cukup untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.
Masalah utama, kata Rizal, terletak pada fenomena kekosongan di lapisan usaha menengah atau missing middle. “UMKM sulit tumbuh menjadi usaha menengah. Yang jumlahnya besar adalah usaha kecil, bagian menengah kosong. Padahal usaha kelas menengah diperlukan agar kemampuan UMKM bisa menembus pasar internasional yang ditopang oleh inovasi teknologi,” terang Rizal.
Ia menekankan pentingnya mendidik tenaga terampil agar bonus demografi tidak sia-sia. Peningkatan keterampilan ini akan berdampak pada pendapatan masyarakat, yang ujungnya meningkatkan Marginal Propensity to Save (MPS) atau kemampuan menabung untuk investasi.
“Negara dengan MPS tinggi cenderung lebih mampu memperkuat saving investment loop atau tabungan yang bisa mempercepat industrialisasi, seperti yang terjadi di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok,” paparnya.
Kebijakan Fiskal Berpihak dan Sektor Unggulan
Sementara itu, Ketua Seminar Alumni ITB80, Boto Simatupang, menyebut bahwa hasil dari pertemuan ini akan ditindaklanjuti melalui roadshow ke berbagai kementerian untuk memberikan masukan praktis dari pelaku usaha. Dirinya menekankan perlunya kebijakan fiskal yang berpihak agar industri nasional kompetitif.
“Faktor keberhasilan bisa ditularkan. Sementara pemerintah harus adakeberpihakan misalnya dengan membuat kebijakan fiskal agar industri bisa kompetitif. Belajar dari Jepang dan Korea Selatan, mereka memilih the winner (bidang yang unggul), memilih untuk dikembangkan dan mereka diberi insentif sehingga kompetitif,” tandasnya.
