Pemerintah Meksiko pada Senin, 9 Februari 2026, mengumumkan pengiriman lebih dari 800 ton bantuan kemanusiaan berupa pangan dan kebutuhan pokok ke Kuba. Pengiriman ini dilakukan menggunakan dua kapal angkatan laut di tengah ketidakpastian pasokan akibat sanksi baru yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Havana.

Kapal logistik Papaloapan dan Isla Holbox bertolak dari Pelabuhan Veracruz pada 8 Februari. Kementerian Luar Negeri Meksiko menyatakan, “Bantuan kemanusiaan dikirim ke Republik Kuba dengan kapal logistik Papaloapan dan Isla Holbox, yang mengangkut lebih dari 814 ton bahan pangan untuk penduduk sipil di pulau tersebut.”

Kapal Papaloapan membawa sekitar 536 ton bahan pangan dan barang kebutuhan pokok, termasuk susu cair, produk daging, beras, kacang-kacangan, biskuit, tuna dan sarden kalengan, minyak nabati, serta produk kebersihan pribadi. Sementara itu, kapal Isla Holbox mengangkut lebih dari 277 ton susu bubuk khusus untuk kebutuhan kemanusiaan. Perjalanan laut ini diperkirakan memakan waktu sekitar empat hari.

Pemerintah Meksiko juga tengah mempersiapkan pengiriman tambahan berupa lebih dari 1.500 ton susu bubuk dan kacang-kacangan untuk Kuba.

Bantuan ini diberikan atas arahan langsung Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, yang menegaskan bahwa langkah ini mencerminkan prinsip kemanusiaan dan tradisi solidaritas rakyat Meksiko.

Pengiriman bantuan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 29 Januari menandatangani perintah eksekutif yang memberi kewenangan kepada AS untuk memberlakukan bea masuk atas barang dari negara-negara yang menjual atau memasok minyak ke Kuba. Trump juga menetapkan status darurat, mengklaim adanya ancaman terhadap keamanan nasional yang berasal dari Havana.

Sebelumnya, Meksiko menjadi pemasok bahan bakar terbesar bagi Kuba setelah pasokan dari Venezuela terhenti. Namun, pengiriman minyak dari Meksiko ke Kuba juga ikut terhenti akibat langkah-langkah yang diambil pemerintahan AS.

Presiden Sheinbaum menjelaskan bahwa pasokan minyak ke Kuba dilakukan melalui kontrak komersial dan bantuan kemanusiaan. Namun, ia mengakui, “perintah eksekutif Presiden Donald Trump membuat kelanjutan pengiriman tersebut menjadi tidak pasti, karena pemerintah Meksiko tidak ingin merugikan rakyatnya sendiri.” Ia menambahkan bahwa pemerintah Meksiko berupaya menyelesaikan persoalan ini melalui jalur diplomatik.