Moskow – Rusia secara tegas mendukung hak Iran untuk membela diri dan mendesak Amerika Serikat (AS) serta Israel untuk segera menghentikan agresi militer di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, pada Kamis (12/3/2026).
“Kami menganggap penting untuk menegaskan kembali hak Republik Islam Iran, dan juga semua negara lain, untuk membela diri sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB,” kata Zakharova dalam sebuah konferensi pers.
Zakharova menambahkan bahwa Rusia akan terus berupaya meredakan situasi di kawasan tersebut. Ia menekankan bahwa serangan terhadap target sipil dan infrastruktur, baik di Iran, negara-negara Arab tetangga, maupun di mana pun, adalah tindakan yang tidak dapat diterima.
“Kami menyerukan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan agresi militer dan kembali ke meja perundingan,” tegas diplomat tersebut.
Konflik yang berkepanjangan di Iran, lanjut Zakharova, berpotensi menimbulkan konsekuensi lingkungan dan radiologis yang serius bagi seluruh Timur Tengah.
Sebagai konteks, pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, yang mengakibatkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel mengklaim serangan mereka diperlukan untuk melawan ancaman dari program nuklir Iran. Namun, mereka kemudian memperjelas bahwa tujuan serangan tersebut adalah untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Menanggapi situasi ini, Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan “pembunuhan Khamenei itu sebagai tindak pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.” Kementerian Luar Negeri Rusia juga telah mengutuk operasi AS-Israel tersebut dan menyerukan deeskalasi segera serta penghentian permusuhan.
