Pemerintah China menyerukan jaminan keamanan energi global menyusul insiden penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran. Beijing mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer dan menjaga stabilitas pasokan energi dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, di Beijing pada Selasa (3/3) menegaskan, “Keamanan energi sangat penting bagi perekonomian dunia. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat.” Pernyataan ini muncul setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai Sabtu (28/2).
Pasca serangan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengirimkan pesan kepada kapal-kapal yang hendak melintasi Selat Hormuz, menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas. Hingga Senin (2/3), tercatat 706 kapal tanker non-Iran tertahan di kedua sisi selat.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi negara pengimpor minyak seperti Jepang, yang mengimpor sekitar 95 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah, sebagian besar melalui jalur perairan strategis tersebut.
Mao Ning menambahkan, “China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi lebih lanjut, menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap aman, dan mencegah dampak lebih lanjut pada perekonomian global.” Beijing juga secara tegas menentang pelanggaran kedaulatan dan keamanan negara mana pun dengan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional.
Mao Ning kembali menekankan, “Keamanan energi sangat penting bagi perekonomian dunia. Memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat adalah tanggung jawab semua pihak. China akan melakukan apa yang diperlukan untuk menjaga keamanan energinya.”
Selain itu, China mendukung penyelesaian damai masalah nuklir Iran melalui dialog dan negosiasi, serta menghormati hak sah Iran untuk menggunakan energi nuklir secara damai. “Kami mencatat bahwa Iran telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak berniat untuk mengembangkan senjata nuklir dan baru-baru ini terlibat dalam negosiasi serius dengan AS. Masalah ini pada akhirnya harus kembali ke jalur solusi politik dan diplomatik,” ujar Mao Ning.
Mao Ning juga mengkritik tindakan AS. “Sekali lagi, AS menyerang Iran dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung. Serangan tersebut melanggar hukum internasional dan norma-norma dasar hubungan internasional dan telah meningkatkan ketegangan di Timur Tengah,” tegasnya.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar serta Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor ini.
Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun drastis hingga 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) pada Minggu (1/3) menaikkan tingkat keamanan maritim di Selat Hormuz ke level kritis, kategori risiko tertinggi. Peningkatan ini menyusul adanya beberapa serangan terhadap kapal komersial di Teluk Oman, dekat Musandam, dan perairan pesisir Uni Emirat Arab pada akhir pekan.
Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Senin (2/3) menyatakan telah menghancurkan 11 kapal Iran yang beroperasi di Teluk Oman. CENTCOM menuduh kapal-kapal tersebut mengganggu dan menyerang pelayaran internasional selama beberapa dekade, serta berjanji akan terus mempertahankan kebebasan navigasi maritim. Iran sendiri tidak mengonfirmasi klaim tersebut.
Sebagai aksi balasan, Teheran melancarkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, aset-aset Amerika Serikat, serta sejumlah negara di kawasan Teluk. Enam personel militer AS dilaporkan tewas akibat serangan balasan tersebut.
sumber gambar: https://www.antaranews.com 