Sejumlah mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya turut serta mengawal kelancaran arus mudik 2026. Mereka menjadi relawan di berbagai titik transportasi sibuk, membantu pemudik mengurai antrean, menemukan jalur keberangkatan, hingga mengatasi kebingungan di tengah padatnya arus perjalanan.

Program relawan ini berlangsung sejak 16 hingga 27 Maret 2026. Sebanyak 17 mahasiswa ditempatkan di lokasi strategis seperti Terminal Purabaya, Stasiun Gubeng, dan Pos Pengamanan Pasar Turi. Para relawan ini bergerak di lini pelayanan yang paling dibutuhkan pemudik, mulai dari pemberian informasi rute, pengaturan arus penumpang, hingga bantuan langsung di lapangan.

Di Stasiun Gubeng Baru, Alicia Aprilia Paulina, salah satu relawan, aktif mengarahkan penumpang menuju peron yang tepat. Ia juga sigap membantu penumpang yang kehilangan barang atau tersesat jalur. “Saya memastikan penumpang tidak salah arah atau tertinggal. Kalau ada kendala, kami bantu langsung di lokasi,” ujar Alicia.

Sementara itu, Reza Rofi’ur Romadani bertugas di layanan tiket dan informasi perjalanan. Penjelasan yang cepat dan jelas dari Reza berhasil membuat antrean lebih rapi dan waktu tunggu pemudik berkurang. Pendekatan yang komunikatif ini menciptakan suasana pelayanan yang lebih ramah bagi pemudik.

Fadli Bilal, relawan lainnya, merasakan manfaat langsung dari interaksi tersebut. Ia menyebut pengalaman di lapangan membuka cara pandang baru baginya. “Kami tidak hanya membantu secara teknis, tapi belajar menghadapi berbagai karakter penumpang. Pengalaman seperti ini tidak kami dapatkan di kelas,” kata Fadli.

Respons positif juga datang dari masyarakat. Lailatul Zahra, seorang pemudik asal Surabaya, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran relawan. “Mereka sigap memberi informasi jalur keberangkatan. Saya jadi lebih tenang,” ucapnya. Hal serupa disampaikan Santoso, pemudik tujuan Nganjuk yang baru pertama kali naik kereta. “Saya sempat bingung. Mereka langsung mendekat dan membantu. Sangat membantu,” tuturnya.

Kegiatan ini tidak hanya berdampak positif bagi pemudik, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menghadapi situasi riil dengan tekanan dan dinamika tinggi. Menanggapi hal ini, pihak kampus Untag Surabaya menyiapkan langkah lanjutan dengan mengonversi program relawan tersebut menjadi setara Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kebijakan ini membuka ruang baru bagi model pengabdian mahasiswa, tidak lagi terbatas di desa, tetapi juga menjawab kebutuhan kota yang padat dan kompleks, seperti tantangan arus mudik yang hadir setiap tahun.