Puluhan mahasiswa internasional dari program Datokarama International Short Course (DISC) 2026 mengikuti pelatihan literasi keuangan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 15 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar peserta di luar ruang kelas.

Kolaborasi Strategis untuk Wawasan Global

Sekretaris Panitia DISC 2026, Fitriningsih, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Hannah Asa Indonesia menjadi elemen penting dalam program ini. “Kami ingin peserta DISC 2026 mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan tantangan global saat ini,” ujarnya di Palu.

Ia menambahkan, kerja sama dengan Hannah Asa Indonesia melalui kegiatan bertajuk Global Youth Financial Leadership Bootcamp 2026 ini bertujuan menghadirkan perspektif baru mengenai pentingnya literasi keuangan, inovasi digital, serta kepemimpinan generasi muda dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. Bootcamp ini juga menjadi bagian dari agenda off-campus visit DISC 2026, yang menyediakan ruang pembelajaran lintas negara terkait literasi keuangan, inovasi digital, kepemimpinan generasi muda, dan ketahanan finansial di era ekonomi digital.

Fitriningsih berharap kegiatan lintas budaya ini dapat memperkuat jejaring internasional dan membuka ruang kolaborasi antargenerasi muda di kawasan Asia Tenggara.

Tantangan Finansial Generasi Muda dan Adaptasi Digital

Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama untuk meningkatkan literasi keuangan. “Tantangan finansial generasi muda saat ini semakin kompleks akibat perkembangan teknologi digital, tekanan media sosial, serta perubahan gaya hidup yang sangat cepat,” kata Mardiyah.

Ia juga menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital di kalangan generasi muda, yang menjadi perhatian dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang disusun oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS). Menurutnya, akses layanan keuangan digital harus diimbangi dengan penguatan literasi finansial agar generasi muda mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak, aman, dan berkelanjutan.

“Kami percaya masa depan Asia Tenggara akan ditentukan oleh generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki literasi keuangan, kemampuan adaptasi digital, dan jiwa kepemimpinan global,” tegas Mardiyah.

Melalui kegiatan ini, ia berharap kolaborasi lintas negara dapat semakin kuat, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda ASEAN yang lebih adaptif, inovatif, dan memiliki kesadaran finansial yang baik.

Diskusi Interaktif dan Pertukaran Perspektif

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Filipina, Malaysia, dan Thailand. Para peserta terlibat dalam sesi diskusi interaktif, pengenalan konsep financial resilience, edukasi literasi keuangan digital, serta pertukaran perspektif mengenai tantangan finansial generasi muda di kawasan Asia Tenggara.