Presiden Prancis Emmanuel Macron secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Macron pada Senin (4/5) di sela-sela KTT Komunitas Politik Eropa yang berlangsung di Yerevan, Armenia.
Keputusan Prancis ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan “Project Freedom”, sebuah inisiatif untuk membantu kapal-kapal yang terblokir di Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) merinci bahwa dukungan militer untuk operasi tersebut mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform nirawak multi-domain, serta 15.000 personel. Operasi ini secara resmi dimulai pada Senin pagi.
Macron: “Operasi Militer AS di Hormuz Belum Jelas”
“Kami tidak akan ikut serta dalam operasi bersenjata yang, menurut saya, belum memiliki kejelasan,” ujar Macron kepada wartawan, menjelaskan alasan penolakan Prancis. Meskipun demikian, Macron tetap menyerukan agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali melalui kesepakatan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa hanya posisi yang terkoordinasi antara Teheran dan Washington yang dapat menjamin kelanjutan arus pelayaran secara berkelanjutan di jalur vital tersebut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah meningkat signifikan sejak 28 Februari, menyusul serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap target di Iran. Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, memberikan harapan akan deeskalasi.
Namun, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Setelah kegagalan perundingan tersebut, Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memperparah krisis. Saat ini, sejumlah mediator internasional tengah berupaya mengatur putaran baru pembicaraan untuk mencari solusi damai.
