Hujan tangis pecah di ruang jenazah RSUP Dr. Kariadi Semarang pada Senin (22/12) kemarin, saat seorang gadis bernama Lutfi, ditemani sang ayah Suratmo, datang untuk memastikan identitas korban tewas dalam kecelakaan bus. Keduanya tak kuasa menahan kesedihan ketika dipastikan empat anggota keluarga mereka menjadi korban tewas dalam insiden tragis tersebut.
Istri Suratmo, Ngatiyem, serta tiga saudaranya, Anis Munandar, Srihono, dan Sugimo, meninggal dunia dalam kecelakaan bus Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV. Bus tersebut menabrak pembatas jalan dan terguling di Simpang Susun Exit Tol Krapyak, Kota Semarang, pada Senin dini hari. Insiden ini menggemparkan di tengah berlangsungnya arus mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Suratmo, warga Dukuh Metuk, Kelurahan Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, mengungkapkan penantian panjangnya. “Sejak subuh saya dan anak menunggu kedatangan istri dan keluarga lain, tapi tidak kunjung tiba hingga baru jelang siang mendapatkan kabar musibah ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan kondisi tidak menentu, Suratmo dan Lutfi akhirnya memutuskan datang ke Semarang untuk mencari informasi di rumah sakit. Setelah mencocokkan identitas dan ciri-ciri korban, kebenaran pahit itu terungkap.
“Istri saya dan saudara berangkat dari Karawang mau pulang ke Boyolali setelah nengok cucu yang baru 3 bulan lahir. Saya tidak menyangka kepulangannya terjadi musibah ini,” tambah Suratmo, berusaha tabah menghadapi kenyataan.
Namun, putrinya, Lutfi, tak lagi dapat menahan kesedihannya. Air matanya mengalir deras dan suara tangis sesenggukan terdengar cukup keras, bahkan ia terlihat lunglai dalam pelukan sang ayah. Sesekali perempuan muda berhijab itu mengusap air mata yang terus membanjiri pipinya.
“Saya tidak menyangka, pertemuan terakhir dengan ibu ketika melepas kepergian ke Kerawang beberapa waktu lalu,” ujarnya lirih, mengenang perpisahan terakhirnya dengan sang ibu.
Kecelakaan tunggal bus dari Jakarta tujuan Yogyakarta ini menewaskan 16 penumpang dan melukai 18 lainnya. Puluhan petugas gabungan tampak sibuk di lokasi kejadian sejak peristiwa itu terjadi. Hingga siang, tim medis di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang juga disibukkan mengobati para korban luka serius.
Belasan korban meninggal masih disemayamkan di kamar jenazah RSUP Dr. Kariadi Semarang. Petugas terus mendata korban dan melayani warga yang datang untuk mengonfirmasi anggota keluarga mereka. Informasi terkini menyebutkan bahwa bus Cahaya Trans yang terlibat kecelakaan tersebut ternyata ilegal dan dilarang beroperasi.
