Alunan melodi “Dancing Queen” milik grup musik legendaris ABBA mengalir lembut, mengisi suasana hangat di sebuah galeri dan rumah produksi cokelat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Di tempat bernama ABBA Cokelat ini, pengunjung dari berbagai daerah tampak antusias memilih aneka produk cokelat batangan yang tersusun rapi, sembari mencicipi sampel rasa yang ditawarkan.

Bobby, pemilik ABBA Cokelat, terlihat sibuk menerima pesanan khusus dari instansi pemerintah. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) unggulan Kalimantan Selatan ini telah berdiri sejak tahun 2008, berfokus pada produksi cokelat lokal dengan identitas khas daerah. Perjalanan ABBA Cokelat tidak selalu mulus, menghadapi berbagai tantangan mulai dari keterbatasan modal, persaingan pasar, hingga gempuran merek besar.

“Badai pandemi Covid beberapa tahun lalu sangat memberi dampak tak terkecuali bisnis cokelat dimana omset penjualan merosot tajam,” ungkap Bobby mengenang masa sulit tersebut. Namun, berkat ketekunan dan inovasi yang tiada henti, ABBA Cokelat berhasil bertahan dan perlahan berkembang, menjadi salah satu produsen cokelat lokal yang dikenal luas.

Banyak yang mengira nama ABBA terinspirasi dari grup musik Swedia favorit Bobby. Namun, Bobby mengklarifikasi bahwa nama ABBA sejatinya merupakan gabungan nama panggilan dirinya dan sang istri, Ama, yang dirangkai menjadi “Ama Bobby Bobby Ama”. Nama sederhana ini melambangkan semangat kebersamaan dan cinta, selaras dengan filosofi cokelat yang identik dengan kehangatan dan kebahagiaan.

Mulai Dikenal Luas

Kini, produk ABBA Cokelat tidak hanya dikenal di Kalimantan Selatan, tetapi juga mulai merambah pasar luar daerah melalui berbagai pameran dan kerja sama bisnis. Di tingkat lokal, produk ini telah tersedia di berbagai stand produk unggulan pemerintah daerah, supermarket, hotel, hingga gerai oleh-oleh di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru.

Di tengah ketatnya persaingan produk cokelat pabrikan, ABBA Cokelat memilih bersaing dengan mengedepankan kreativitas dan identitas lokal. Keunikan produk menjadi ciri khas yang membedakannya di mata konsumen. ABBA tidak hanya menawarkan rasa cokelat yang lezat, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbeda melalui inovasi rasa dan desain yang mencerminkan budaya Kalimantan Selatan.

Beberapa produk andalan mereka antara lain:

  • Hiyuco (Hiyung Chocolate): Cokelat dengan sensasi pedas khas cabai hiyung, salah satu cabai terpedas dari Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Produk ini dikembangkan melalui kolaborasi langsung dengan petani cabai lokal, sekaligus mendukung pemberdayaan petani daerah.
  • Cokelat motif Sasirangan: Terinspirasi dari kain tradisional khas Bumi Lambung Mangkurat, julukan Kalimantan Selatan, memberikan sentuhan budaya pada produk cokelat yang cocok sebagai oleh-oleh.
  • Cokelat karakter Bekantan: Dengan bentuk lucu menyerupai fauna endemik Kalimantan, menjadi favorit anak-anak maupun wisatawan.

UMKM Berprestasi

Perjalanan panjang ABBA Cokelat juga diwarnai berbagai prestasi membanggakan. Konsistensi dan pengalaman mereka di bidang usaha cokelat lokal mengantarkan ABBA meraih penghargaan Top 75 BNI UMKM Heroes kategori kuliner pada tahun 2021, Kurasi UMKM Unggulan Bank Indonesia pada tahun 2022, serta penghargaan Halal Food Terbaik tingkat Provinsi Kalimantan Selatan di tahun yang sama.

Menurut Bobby, dukungan dari pemerintah daerah dan sektor perbankan sangat berperan besar dalam perkembangan usahanya. Melalui program pembinaan UMKM, pelatihan, hingga dukungan pemasaran, ABBA Cokelat mampu bertahan dan berkembang, terutama saat pandemi Covid-19 melanda.

Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, menegaskan komitmen pemerintah kota dalam mendukung kemajuan UMKM. Dengan puluhan ribu UMKM di Banjarbaru, pihaknya akan terus mendorong kolaborasi bersama sektor perbankan untuk memperluas akses permodalan dan pembinaan usaha agar UMKM dapat naik kelas hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Inovasi Jadi Kunci

Sebagai pelaku UMKM yang memulai usaha dari nol, Bobby menyadari bahwa inovasi adalah kunci utama untuk bertahan di tengah ketatnya persaingan pasar dan derasnya produk impor. “Pelaku usaha harus mampu mengikuti perkembangan tren, teknologi, dan konsumsi pasar, termasuk memanfaatkan pemasaran digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas,” kata Bobby.

Oleh karena itu, ABBA Cokelat tidak hanya fokus menjual cokelat batangan konvensional. Mereka juga merambah pasar baru melalui layanan cokelat kustom, seperti cokelat dengan foto edible image, desain kemasan khusus untuk suvenir, hampers, hingga corporate gift. Inovasi ini terbukti membuka peluang pasar yang lebih besar.

Tak hanya itu, ABBA Cokelat juga melakukan diversifikasi usaha dengan mengembangkan suvenir keramik dan studio foto, yang mendapat respons positif dari masyarakat. Diversifikasi ini menjadi strategi penting agar bisnis tetap bertahan dan tumbuh di tengah dinamika pasar.

Faktor penting lain yang sangat menentukan kelangsungan usaha adalah menjaga ketersediaan bahan baku cokelat berkualitas. Selama ini, sebagian besar bahan baku masih didatangkan dari Pulau Jawa. Untuk mengatasi hal ini, ABBA Cokelat mulai berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan sektor swasta untuk membina petani kakao di beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan. Harapannya, Kalimantan Selatan suatu saat mampu memiliki rantai pasok cokelat lokal yang kuat, berkualitas, dan berkelanjutan.

ABBA Cokelat menjadi bukti nyata bahwa UMKM lokal mampu berkembang dan bersaing jika dibangun dengan kreativitas, konsistensi, dan inovasi. Dukungan pemerintah dan sektor perbankan juga berkontribusi besar, mengubah usaha rumahan sederhana ini menjadi simbol semangat UMKM lokal Kalimantan Selatan.