Di tengah hiruk pikuk 393 jemaah calon haji asal Kabupaten Bone, Sinjai, dan Makassar yang memadati Aula Arafah Asrama Haji Sudiang pada Sabtu, 2 Mei 2026, dua sosok menonjol dengan kisah perjuangan yang menginspirasi. Mereka adalah Saifuddin HM Abd Muin Saideng dan Kasma Binti Muskin, yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menunaikan panggilan suci.
Perjalanan Panjang Saifuddin, Imam Masjid Tuna Netra
Saifuddin, seorang imam masjid yang telah berusia lebih dari setengah abad, menggenggam erat lengan pendampingnya saat memasuki aula. Pandangannya telah kosong sejak usia remaja, namun langkahnya tetap mantap. Ia telah menabung selama lebih dari dua dekade untuk bisa menunaikan ibadah haji. Terdaftar sejak tahun 2014, ia menyisihkan penghasilannya yang tak seberapa.
“Honor dari imam masjid Rp200 ribu, saya kumpulkan. Dulu juga jualan bahan campuran,” kata Saifuddin singkat, menceritakan bagaimana ia mengumpulkan dana. Kehilangan penglihatan datang bertahap sejak tahun 1985, saat ia masih duduk di bangku SMP. “Tiba-tiba mata terasa sakit seperti tertusuk jarum, bengkak, lalu tidak bisa melihat sama sekali,” kenangnya.
Puluhan tahun dalam kegelapan tidak membuatnya menyerah. “Alhamdulillah masih kuat jalan. Saya hafal rute ke masjid sejak masih bisa melihat dulu,” ujarnya penuh syukur. Kini, ia membawa harapan sederhana ke Tanah Suci, mendoakan kesembuhan matanya di depan Kakbah, setelah segala ikhtiar medis telah ia tempuh.
Kasma, Jemaah Haji dengan Satu Kaki
Di sudut lain, Kasma Binti Muskin duduk di kursi roda, tubuhnya telah kehilangan satu kaki akibat diabetes. Ia menunggu lebih lama, terdaftar sejak tahun 2011. Seharusnya, ia berangkat tiga tahun lalu, namun batal karena kondisi kesehatannya. “Tahun 2024, saya batal berangkat karena diabetes,” tuturnya. Ironisnya, sang suami tetap berangkat pada tahun itu.
Penyakitnya kian parah, luka di kaki bernanah hingga akhirnya kaki kanannya diamputasi sampai ke paha. Tangan kanannya pun ikut melemah. Setelah tertunda dua tahun, proses pemulihan dan stabilisasi kesehatan ia jalani dengan ketat, termasuk suntik insulin setiap malam. “Alhamdulillah, bahagia tahun ini bisa naik,” kata Kasma, yang kini didampingi anak perempuannya, Nurlinda, sebagai penopang utama.
Dukungan Penuh dari Kementerian Agama Sinjai
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sinjai, Kamriati Anies, menyebut kedua jemaah ini sebagai bagian dari 44 orang kuota Sinjai yang berangkat tahun ini. “Satu tuna netra, satu amputasi kaki. Yang ibu ini adalah jemaah kami tahun 2024 yang sempat tertunda karena diabetesnya tinggi,” jelasnya.
Kamriati memastikan tidak ada bimbingan manasik yang terpisah. Saifuddin dan Kasma bergabung penuh dalam rombongan. “Mereka tidak pernah merasa sakit. Malah lebih semangat. Saya selalu sampaikan, jangan berkecil hati. Kita di sini begini, di sana nanti Tuhan yang tentukan, bisa jadi lebih kuat,” ujar Kamriati, mengapresiasi semangat mereka.
Untuk memastikan kelancaran ibadah, strategi khusus telah disiapkan. “Kasma ini tiga pendampingan: pendampingan obat, alat, dan orang. Anaknya yang mendampingi,” rinci Kamriati. Adapun untuk Saifuddin, kuncinya adalah pendampingan orang. Meski ia mampu berjalan, saat puncak haji seperti wukuf, sai, dan umrah, ia akan dialihkan menggunakan kursi roda. “Supaya tidak mengganggu saudaranya yang juga mau beribadah, akan ada pembimbing yang memisahkan dan membantunya pakai alat,” tambah Kamriati.
Di hadapan petugas dan wartawan, Kasma yang dulu berjualan pakaian, kini menggantungkan mobilitasnya sepenuhnya pada kursi roda. Doanya di depan Kakbah nanti melebur menjadi satu, memohon kebahagiaan bersama anaknya. Sementara Saifuddin, sang imam yang menyimpan beras di tasnya untuk berjaga-jaga, berharap mukjizat kesembuhan yang tak ia dapatkan dari dokter.
