Ketegangan militer yang meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di sekitar Selat Hormuz mulai menimbulkan dampak ekonomi serius bagi sejumlah negara di Asia. Beberapa operator pelayaran terpaksa menghentikan transit melalui selat vital tersebut, menyusul melonjaknya biaya asuransi dan kekhawatiran keamanan yang kian memuncak.

Selat Hormuz, yang dikenal sebagai salah satu koridor energi paling penting di dunia, kini menjadi titik fokus ketidakpastian. Kapal-kapal tanker minyak dilaporkan masih tertahan, memperparah situasi pasokan energi global.

Respons Negara-negara Asia

China, salah satu negara dengan ketergantungan energi tinggi, pada Senin (2/3) menyebut jalur perairan itu sebagai “rute perdagangan internasional yang penting” dan mendesak penghentian segera operasi militer. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa stabilitas di selat dan perairan sekitarnya sangat krusial bagi perdagangan global, seraya menyerukan langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Sementara itu, media Iran pada Sabtu (29/2) melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan AS-Israel, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal dari pihak berwenang.

Jepang dan Malaysia Ambil Langkah Antisipasi

Dampak langsung terasa di Jepang, dengan lebih dari 40 kapal, termasuk kapal tanker minyak, saat ini tertahan di Teluk Persia, menurut laporan Kyodo News. Setidaknya tiga kapal telah menghentikan upaya untuk melintasi selat tersebut. Jepang sendiri mengimpor sekitar 95 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah, yang sebagian besar melewati jalur perairan sempit itu.

Merespons situasi ini, Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi pada Senin (2/3) meminta Duta Besar Iran untuk Tokyo, Peiman Seadat, untuk membantu memastikan keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Jepang, Motegi menyatakan Tokyo akan “terus melakukan seluruh upaya diplomatik yang diperlukan untuk mencapai penyelesaian situasi ini secepat mungkin.”

Malaysia juga tidak tinggal diam. Bernama melaporkan bahwa negara tersebut menyarankan kapal-kapalnya untuk menghindari selat tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut. Departemen Kelautan Malaysia meminta operator kapal untuk memantau secara ketat peringatan keamanan internasional dan menjaga kesiapsiagaan operasional pada tingkat tinggi.

Pakistan Siapkan Rencana Darurat

Pakistan bahkan tengah menyiapkan rencana darurat untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Sejumlah pejabat mengatakan kepada harian lokal The News International bahwa Islamabad kemungkinan akan meminta dimasukkan dalam daftar pasokan minyak mentah pilihan Arab Saudi untuk pengiriman melalui Laut Merah jika gangguan berlanjut lebih dari 10 hingga 12 hari.

Dua kapal tanker minyak mentah yang dioperasikan oleh Pakistan National Shipping Corporation saat ini masih tertahan di dekat selat. Satu kapal lainnya yang mulai memuat ketika konflik meningkat diperkirakan belum akan berangkat dalam waktu dekat.

Pentingnya Selat Hormuz bagi Perdagangan Global

Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor tersebut. Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun drastis hingga 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan sejumlah insiden maritim yang digambarkan sebagai serangan pada Minggu (1/3), menambah kekhawatiran akan keamanan di jalur perairan tersebut.

Meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki jaringan pipa yang dapat menghindari Selat Hormuz, kapasitasnya hanya mencakup sebagian kecil dari volume minyak mentah yang biasanya dikirim melalui jalur tersebut, menunjukkan betapa krusialnya selat ini bagi pasokan energi global.

sumber gambar: Anadolu