Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) menjalin kolaborasi strategis dengan produsen multinasional Bayer Indonesia. Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem pertanian nasional melalui penjajakan program unggulan pemerintah, Perintis Berdaya, dengan inisiatif Better Life Farming (BLF) milik Bayer.
Langkah awal kerja sama berskala nasional ini ditandai dengan kunjungan lapangan dan dialog multipihak di Better Life Farming Center (BLFC) Mojokerto, Jawa Timur, pada Jumat (22/5/2026). Kolaborasi ini dirancang untuk memadukan keahlian teknologi pertanian inovatif, akses permodalan formal, dan kepastian pasar dari sektor swasta dengan fungsi koordinasi makro serta inkubasi kewirausahaan sosial dari pemerintah.
Membangun Ekosistem Pertanian Terintegrasi
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, menegaskan bahwa kemandirian petani lahan kecil hanya dapat dicapai melalui ekosistem hulu ke hilir yang kokoh dan terintegrasi.
“Sedari awal, program Perintis Berdaya hadir bukan untuk membuat program baru dari nol, tapi untuk menjahit inisiatif-inisiatif baik seperti Better Life Farming agar bisa diperluas dan direplikasi. Pendekatannya pemberdayaan, bukan bantuan, tujuannya petani mandiri, punya daya tawar, dan tidak bergantung,” ujar Leontinus melalui keterangannya, Senin (25/5/2026).
Leontinus menambahkan, Kemenko PM sangat terbuka untuk merangkul pelaku usaha dan lembaga pembiayaan guna memastikan ekosistem ekonomi pedesaan dapat tumbuh lebih luas tanpa sekat birokrasi.
Model ‘Closed-Loop’ Bayer Dongkrak Produktivitas
Sejak diinisiasi di Indonesia pada tahun 2020, program BLF milik Bayer telah mengoperasikan 590 unit BLFC yang tersebar di 13 provinsi, dengan 20 persen di antaranya dikelola oleh perempuan tani. Melalui jaringan kios cerdas ini, Bayer menerapkan sistem pertanian closed-loop.
Sistem ini secara langsung menghubungkan penyediaan teknologi budidaya dan benih unggul, pendampingan agronomi, akses asuransi, hingga kepastian penyerapan hasil panen oleh pembeli siaga (offtaker). Data internal mencatat, implementasi model ini sukses mendongkrak pendapatan kios pertanian BLFC hingga 34 persen, sekaligus menaikkan produktivitas komoditas petani binaan antara 15 hingga 25 persen.
Bayer Crop Science Agriculture Affairs & LTO Lead Indonesia, Aditia Rusmawan, menyatakan optimismenya bahwa dukungan kebijakan makro dari Kemenko PM akan mempercepat replikasi model ini ke berbagai daerah. “Inisiatif kemitraan nasional BLF dan Perintis Berdaya diharapkan akan mempercepat transformasi pertanian di pedesaan di seluruh Indonesia. Dengan dukungan kebijakan makro pemerintah, kami optimistis model penguatan ekosistem berbasis desa ini dapat direplikasi secara masif di berbagai provinsi,” jelas Aditia.
Dampak Nyata di Tingkat Akar Rumput
Sektor pertanian merupakan salah satu penopang ekonomi riil strategis bagi Kabupaten Mojokerto dan Provinsi Jawa Timur. Kehadiran program pendampingan hulu-hilir ini diakui sangat membantu memitigasi risiko kerugian petani kecil di lapangan.
Imam Baihaqi, seorang petani sekaligus pemilik BLFC CV Kirana Juara Abadi dari Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto, mengakui dampak nyata dari integrasi bisnis ini terhadap stabilitas usahanya. “Selama ini, tantangan terbesar kami adalah ketidakpastian, mulai dari modal di awal musim tanam, tata cara budidaya yang benar, hingga ke mana harus menjual hasil panen dengan harga yang baik. Melalui ekosistem BLF, kami mendapatkan pendampingan menyeluruh dari hulu ke hilir termasuk akses pembiayaan dan pasar. Dampaknya sangat nyata, omzet kios BLFC saya meningkat empat kali lipat,” ungkap Imam.
