Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong peningkatan daya saing produk lokal, khususnya subsektor kriya seni ukir Jepara, agar mampu menembus pasar global. Pernyataan tersebut disampaikan Irene Umar saat menghadiri pameran seni ukir Jepara bertajuk “Tatah” di Museum Nasional, Jakarta, pada Rabu (29/4/2026).

Irene Umar menekankan pentingnya seni ukir Jepara sebagai identitas budaya dan aset bangsa yang memiliki nilai ekonomi tinggi. “Seni ukir Jepara bukan sekadar produk furnitur, melainkan representasi dari ketekunan, nilai historis, dan estetika tinggi yang menjadi aset bangsa yang harus mendunia, agar identitas kita semakin kuat dan kesejahteraan para perajinnya meningkat,” ujar Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Strategi Penguatan dan Pameran “Tatah”

Menurut Irene, seni ukir Jepara berpotensi menjadi produk kreatif premium yang diburu para kolektor, baik di pasar lokal maupun internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah berkomitmen mendampingi pelaku usaha melalui strategi hilirisasi yang tepat, perlindungan intellectual property (IP), serta perluasan akses pasar digital.

Salah satu upaya konkret adalah melalui pameran “Tatah” yang diselenggarakan di Ruang Pamer Temporer A, Gedung Museum Nasional Indonesia. Pameran ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan ekonomi kreatif dengan menyatukan seni ukir, kriya, dan desain interior dalam satu ekosistem berstandar internasional.

Melalui kolaborasi antara pemerintah dan kurasi yang ketat, ajang ini diharapkan mampu menarik investor mancanegara. Tujuannya adalah untuk memperkuat rantai pasok serta meningkatkan ekspor furnitur nasional.

Pameran “Tatah” merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Jepara, DPD HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Jepara Raya, dan komunitas sejarah Rumah Kartini Japara. Pameran ini menampilkan 35 karya seni ukir tematik terbaru, termasuk karya kontemporer dan bersejarah dari maestro ukir Jepara yang dituangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari patung, relief, dekorasi ruang, hingga mebel eksklusif.

Diselenggarakan mulai 29 April hingga 5 Juli 2026, pameran ini tidak hanya menampilkan keindahan seni, tetapi juga mengapresiasi proses kreatif seniman. Direktur Pelaksana TATAH, Veronica Rompies, menyatakan, “Seni ukir adalah mahakarya berkelas, bukan sekadar komoditas, pameran ini hadir sebagai langkah nyata untuk mengapresiasi proses kreatif seniman sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya kita.”