Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia hari ini, Jumat (21/2/2026), menggelar Sidang Isbat untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah. Pertemuan penting ini akan memadukan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (observasi langsung) guna menetapkan secara resmi dimulainya bulan puasa bagi umat Islam di Tanah Air.
Sidang Isbat yang dipusatkan di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kemenag RI, Jakarta, akan diawali dengan pemaparan posisi hilal berdasarkan data hisab. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyampaikan proyeksi mereka terkait visibilitas hilal.
Prediksi Hilal dari BMKG dan BRIN
Berdasarkan data hisab BMKG, pada saat matahari terbenam hari ini, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia diperkirakan bervariasi antara 4 derajat 30 menit hingga 7 derajat 15 menit di atas ufuk. Sementara itu, elongasi (jarak sudut bulan-matahari) diproyeksikan berada di kisaran 7 derajat 50 menit hingga 9 derajat 20 menit.
Senada dengan BMKG, para peneliti dari BRIN juga mengonfirmasi bahwa posisi hilal pada 21 Februari 2026 sudah memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria MABIMS menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Dengan demikian, potensi hilal terlihat di sebagian besar wilayah Indonesia sangat besar.
Proses dan Peserta Sidang Isbat
Sidang Isbat akan berlangsung dalam tiga tahapan. Tahap pertama adalah pemaparan data hisab dan posisi hilal oleh tim pakar Kemenag, BMKG, dan BRIN. Setelah itu, sidang akan dilanjutkan secara tertutup untuk mendengarkan laporan hasil rukyatul hilal dari lebih dari 100 titik lokasi pemantauan yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Hasil observasi ini akan menjadi bahan musyawarah utama.
Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai pihak penting, termasuk perwakilan organisasi masyarakat Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Persis, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi VIII DPR RI. Selain itu, pakar astronomi dan duta besar negara-negara sahabat juga turut hadir untuk menyaksikan proses penetapan ini.
Tahap terakhir adalah konferensi pers hasil Sidang Isbat yang akan disampaikan langsung oleh Menteri Agama. Dengan data hisab yang menunjukkan hilal sudah di atas kriteria MABIMS dan potensi terlihatnya hilal di banyak lokasi, diperkirakan 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada Sabtu, 22 Februari 2026. Penetapan ini diharapkan dapat menciptakan keseragaman awal puasa bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
