Kecemasan menyelimuti keluarga Andi Angga Prasadewa, aktivis kemanusiaan asal Makassar, Sulawesi Selatan, setelah putranya dilaporkan diculik militer Israel di laut lepas Mediterania. Peristiwa ini terjadi saat Angga mengikuti misi kemanusiaan menuju Palestina pada Senin, 18 Mei 2026.

Sutrawati Kaharuddin, ibu dari Andi Angga Prasadewa, mengungkapkan kekhawatirannya di kediamannya di Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Makassar, pada Selasa, 19 Mei 2026. Ia menuturkan bahwa anaknya berangkat ke Gaza melalui jalur laut dari Turki.

“Anak saya itu berangkat ke Gaza lewat jalur laut dari Turki, di Marmaris (Cruise Port), ada 56 kapal, infonya begitu. Di perjalanan, sebelum sampai 250 mil dari laut, itu ada ini (ditangkap) sama zionis Israel,” tutur Sutrawati.

Andi Angga Prasadewa merupakan bagian dari rombongan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dari perwakilan Rumah Zakat. Ia ikut serta dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla ke Palestina. Total ada sembilan Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk Angga, yang dicegat militer Israel di perairan tersebut.

Sutrawati menceritakan, informasi penculikan anaknya baru diketahui setelah melihat berita dan mendapat kabar dari pihak Rumah Zakat. Komunikasi terakhirnya dengan Angga terjadi pada Senin sore.

“Jam tiga sore kemarin masih jawab WhatsApp saya. Setelah itu saya jawab, kakak, bunda sangat khawatir. Kakak hati-hati di sana. Banyak doa, istighfar, sekecil apa pun itu berserahkan sama Allah. Selalu minta petunjuk sama Allah,” kenangnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Angga, anak sulungnya, sebenarnya memiliki riwayat mabuk laut dan tidak terbiasa dengan perjalanan panjang di laut. Meskipun telah diingatkan, Angga bersikeras untuk tetap berangkat demi misi kemanusiaan tersebut.

“Itu hari dia bilang, saya mabuk (laut) apa begitu. Kakak (Angga) itu mabuk laut. Pokoknya apapun itu selalu ingat Allah. tu Saya cuma ingatkan supaya kakak perbanyak beristighfar,” ujarnya lagi, mengulang nasihatnya saat berkomunikasi terakhir.

Sutrawati telah memiliki firasat buruk sebelum kejadian. Ia khawatir anaknya yang membawa obat-obatan dan bantuan ke Gaza melalui jalur laut akan menghadapi risiko. Kecurigaannya semakin kuat saat putus kontak.

“Waktu putus kontak saya itu jam tiga sore, sudah centang satu WhatsAppnya. Dan itu saya mulai curiga di situ, saya sudah khawatir karena saya sudah WhatsApp di situ sebelumnya,” ucapnya lirih.

Angga bahkan sempat menyampaikan pesan kepada adiknya untuk disampaikan kepada sang ibu mengenai kemungkinan putus kontak.

“Saya sudah ada firasat malamnya itu. Karena, subuh saya bangun, ada firasat waktu bangun tidur. Saya ingat, jam tiga kemarin, tadi sudah centang satu. Dia bilang sama adiknya, sampaikan ke Bunda jangan kaget, sudah tidak bisa dihubungi, HP sudah dibuang ke laut. Karena begitu Waktu pelatihannya,” ungkap Sutrawati.

Pihak keluarga di Makassar sangat berharap agar pemerintah Indonesia dapat segera bertindak untuk membebaskan Andi Angga Prasadewa beserta delapan rekan WNI lainnya yang kini ditahan militer Israel.

“Harapan saya, pemerintah segera membebaskannya. Karena keluarga tidak bisa apa-apa, hanya pemerintah bisa membebaskannya. Saya kira anak saya memang pantas dibebaskan, dia itu aktivis kemanusiaan, bukan teroris. Ke sana cuma bawa obat, bawa kebutuhan untuk (warga) Palestina yang lagi kelaparan,” pungkas Sutrawati dengan penuh harap.