Jumlah penderita tuberkulosis (TBC) di Kota Bandung melonjak signifikan pada tahun 2025. Data terbaru menunjukkan angka 18.846 kasus, meningkat drastis dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 13.678 kasus.
Kondisi ini menempatkan Kota Bandung sebagai wilayah dengan kasus TBC tertinggi kedua di Jawa Barat. Sebaran kasus ditemukan merata di hampir setiap kecamatan, namun didominasi oleh daerah padat penduduk seperti Kecamatan Ciparay dan Kiaracondong.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, menyatakan keprihatinannya pada Senin (23/2).
“Ini tentu menjadi perhatian tersendiri dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung karena jumlah penderita yang cukup banyak ini hingga menjadi yang tertinggi kedua di Jawa Barat (Jabar). Penderitanya ada yang sudah bergejala batuk lama lebih dari 2 minggu tidak sembuh-sembuh. Dia datang ke Puskesmas, kita skrining TBC dan diketemukan positif,” ungkap Dadan.
Dadan menjelaskan, selain pasien umum, pihaknya juga menemukan beberapa ibu hamil yang positif TBC tanpa keluhan. Namun, pada umumnya, penderita TBC menunjukkan gejala khas seperti batuk lebih dari dua minggu yang tidak kunjung sembuh, penurunan berat badan, dan keringat pada malam hari.
Masyarakat yang mengalami gejala tersebut diimbau untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat guna skrining TBC agar penanganan dapat dilakukan sesegera mungkin.
“Dengan kondisi tersebut, tentunya menjadi perhatian kami dan harus ada upaya penanggulangan TBC dengan melibatkan aparat kewilayahan seperti pihak kelurahan dan kecamatan. Tetapi kalau pengobatan TBC ini, kita harus ikuti panduan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Panduannya kita masih menggunakan durasi pengobatan 6 bulan, namun 4 bulan juga mungkin saja tergantung kondisi,” lanjut Dadan.
Pentingnya Skrining dan Pengobatan Tuntas
Dadan menekankan pentingnya pemeriksaan bagi warga yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC, terutama yang tinggal dalam satu rumah. Jika hasil pemeriksaan positif, pengobatan akan segera diberikan. Sementara itu, bagi yang negatif, akan diberikan terapi pencegahan TB.
Upaya penanggulangan TBC ini menjadi perhatian serius, bahkan Presiden Prabowo telah meluncurkan program cek kesehatan gratis (CKG) sebagai bagian dari komitmen pemerintah.
“Mudah-mudahan kasus TBC tahun ini bisa turun. Kita berusaha bareng-bareng dengan aparat kewilayahan, kemudian Puskesmas untuk mengatasi TBC ini,” imbuh Dadan.
Ia juga mengingatkan penderita TBC untuk menuntaskan pengobatan selama enam bulan penuh. Hal ini krusial untuk memastikan kesembuhan total dan mencegah kuman TBC menjadi kebal terhadap obat.
Apabila pengobatan tidak tuntas, kuman dapat bermutasi menjadi resisten, yang memerlukan jenis obat dengan grade lebih tinggi dan biaya yang lebih mahal. Dadan menambahkan bahwa biaya pengobatan TBC dapat ditanggung melalui BPJS Kesehatan.
