Ratusan orang tua santriwati berbondong-bondong mendatangi Pondok Pesantren (Padepokan) Pedang Ati di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Pekalongan, Jawa Tengah, pada Rabu (27/5) malam. Kedatangan mereka untuk menjemput anak-anak setelah kasus dugaan asusila yang melibatkan pimpinan dan pengasuh ponpes tersebut merebak.

Pantauan di lokasi menunjukkan, kerumunan orang tua masih terlihat di depan ponpes. Mereka secara berangsur-angsur menyelesaikan administrasi sebelum membawa pulang putri mereka.

Kekhawatiran para orang tua muncul setelah terungkapnya kasus dugaan asusila yang dilakukan oleh pimpinan dan pengasuh Ponpes Pedang Ati berinisial AKF (54), dengan korban puluhan santriwati.

Seorang wali santri dari Pemalang, Khasanah, mengungkapkan kekhawatirannya. “Saya khawatir dengan kejadian ini,” ujarnya. Senada, Riyadi, wali santri dari Batang, juga mengaku cemas. Ia khawatir kasus ini akan menciptakan situasi tidak kondusif, terutama bagi psikologis para santriwati yang masih berada di ponpes.

Dugaan kasus asusila di Ponpes Pedang Ati Pekalongan ini disinyalir telah berlangsung cukup lama, yakni sejak tahun 2008. Selama ini, kasus tersebut diduga ditutupi sedemikian rupa sehingga tidak terkuak ke publik. Bahkan, ketika salah seorang santriwati berinisial F menjadi korban hingga hamil dan melahirkan, kasus ini masih belum terungkap.

Kepala Polres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi sempat mengungkapkan bahwa penyelidikan polisi terkendala. Hal ini karena para korban, yang merupakan santriwati ponpes, takut dan diduga mengalami intimidasi serta trauma. Kasus ini mulai terbuka setelah enam laporan resmi masuk ke pihak kepolisian.

Terbongkarnya dugaan asusila ini berawal dari penggerudukan puluhan anggota Organisasi Masyarakat (Ormas) Yakuza Mangenes ke pesantren. Mereka datang untuk meminta pertanggungjawaban pimpinan ponpes atas banyaknya laporan asusila.

Perwakilan Ormas Yakuza Mangenes, Eko Ebes, menjelaskan, “Kami banyak menerima laporan baik melalui pesan singkat maupun di media sosial, sehingga kami turun langsung ke ponpes untuk meminta pertanggungjawaban dari pimpinan ponpes.”

Selain menggeruduk ponpes, anggota Ormas Yakuza Mangenes juga mendampingi sejumlah korban melapor ke kepolisian. Sekitar satu jam kemudian, polisi bergerak cepat menangkap pimpinan dan pengasuh Ponpes Pedang Ati, Abdul Khalim Fadlun, yang hingga malam hari masih menjalani pemeriksaan penyidik.

Eko Ebes menambahkan bahwa jumlah korban asusila mencapai puluhan santriwati. Namun, sebagian besar takut melapor karena adanya intimidasi dan status pelaku sebagai tokoh di lingkungan tersebut. “Sampai saat ini ada 6 korban yang melapor, dimungkinkan akan bertambah setelah terbongkarnya kasus ini,” imbuhnya.