MATARAM – Balai Karantina Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi mengoperasikan fasilitas uji Polymerase Chain Reaction (PCR) di Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa. Langkah ini diambil untuk memperketat pengawasan lalu lintas ternak dan memastikan deteksi dini Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan yang akan dikirim ke luar daerah.

Kepala Balai Karantina NTB, Ina Soelistyani, menegaskan bahwa pengoperasian alat PCR tersebut merupakan upaya vital dalam melindungi sektor peternakan di wilayahnya. “Pemeriksaan PCR untuk melindungi aset ekonomi (hewan ternak) masyarakat,” ujar Ina di Mataram, Rabu (29/4/2026).

Pengetatan pengawasan ini didasari oleh volume distribusi ternak yang signifikan. Data dari aplikasi Best Trust milik Badan Karantina Indonesia menunjukkan, hingga 24 April 2026, lalu lintas ternak dari Kabupaten Sumbawa telah mencapai 6.362 ekor sapi dengan 296 kali pengiriman ke berbagai daerah. Angka ini mendorong Karantina NTB untuk memfokuskan pengawasan di titik keluar utama seperti Pelabuhan Badas.

Ina Soelistyani menambahkan, PMK merupakan ancaman serius bagi peternak kecil, terutama karena dapat menyebabkan kematian pada hewan ternak ruminansia yang menjadi investasi utama mereka. “Kami berharap alat PCR di Sumbawa membuat pemeriksaan semakin intensif, sehingga mampu memutus rantai penularan PMK,” ucapnya.

Teknologi PCR Jamin Akurasi Deteksi Dini

Melalui uji PCR, petugas laboratorium di Satuan Pelayanan Pelabuhan Badas kini dapat mengidentifikasi virus penyebab PMK dengan tingkat akurasi yang tinggi, bahkan sebelum gejala klinis penyakit tersebut terlihat secara kasat mata. Penggunaan teknologi ini juga menjamin ketertelusuran kesehatan hewan, di mana asal-usul dan status bebas penyakit tercatat secara akurat melalui hasil uji laboratorium yang sah.

Hasil pemeriksaan PCR ini menjadi dasar bagi Balai Karantina NTB untuk menerbitkan Laporan Hasil Uji. Dokumen tersebut merupakan bukti resmi bahwa hewan ternak telah melalui prosedur karantina yang ketat dan dinyatakan aman untuk dilalulintaskan ke luar daerah.

Petugas karantina setempat, Priono, menekankan bahwa pemeriksaan fisik saja tidak lagi memadai untuk menjamin keamanan ternak dari ancaman virus. “PCR membantu kami menemukan hewan yang sakit meskipun belum terlihat gejalanya secara kasat mata, sehingga pencegahan penularan bisa kami lakukan jauh lebih awal,” pungkas Priono.