Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memberlakukan tarif baru, menyebutnya sebagai “pukulan bagi seluruh Eropa”. Pernyataan ini disampaikan Merz menyusul pengumuman Trump mengenai tarif 25 persen untuk mobil dan truk dari Uni Eropa (UE) yang akan berlaku mulai pekan ini.
Trump beralasan bahwa kebijakan tarif baru tersebut diambil karena Uni Eropa dianggap gagal memenuhi kesepakatan perdagangan yang telah dicapai dengan Amerika Serikat. Hal ini memperkeruh hubungan dagang antara kedua blok ekonomi besar tersebut yang memang telah tegang dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam wawancara dengan stasiun penyiaran ARD, Merz secara tegas menyatakan, “Ia (Trump) ingin memberikan pukulan kepada seluruh Eropa.” Meski demikian, Kanselir Jerman itu juga berupaya meredakan ketegangan, menjelaskan bahwa Trump memiliki alasan tersendiri di balik pengumuman kebijakan tersebut.
“Saya kira ia mulai kehilangan kesabaran, karena kami telah mencapai kesepakatan bea cukai dengan Amerika pada Agustus tahun lalu,” ungkap Merz. Ia menambahkan bahwa hingga saat ini, Uni Eropa belum juga menandatangani kesepakatan tersebut dan terus mengajukan syarat-syarat baru.
“Pihak Amerika sudah siap, tetapi pihak Eropa belum, dan saya berharap kita dapat mencapai kesepakatan secepatnya,” lanjut Merz, menunjukkan harapannya agar konflik perdagangan ini dapat segera diselesaikan melalui dialog.
Merz juga mengindikasikan bahwa dirinya akan memiliki beberapa kesempatan untuk membahas isu ini secara langsung dengan Trump. Pertemuan tersebut termasuk dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis pada Juni dan KTT Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Turki pada Juli mendatang.
Hubungan perdagangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat memang telah diwarnai ketegangan. Sebelumnya, Washington pernah memberlakukan tarif terhadap baja dan aluminium asal Eropa, yang kemudian dibalas dengan langkah serupa oleh Uni Eropa. Meskipun kedua pihak sempat sepakat untuk melonggarkan sebagian pembatasan, isu tarif terhadap sektor otomotif tetap menjadi risiko utama yang mengancam.
Pernyataan terbaru dari Presiden Trump ini sontak memicu kekhawatiran di seluruh Eropa. Potensi peningkatan konflik perdagangan dikhawatirkan akan berdampak signifikan terhadap industri dan lapangan kerja di benua biru.
