Pemerintah China menyerukan penghentian konflik di Timur Tengah bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Beijing menegaskan bahwa kekerasan bukanlah solusi dan hanya akan menciptakan kebencian baru di kawasan tersebut.

“Sejarah dan kenyataan telah berulang kali menunjukkan kepada kita bahwa penggunaan kekerasan bukanlah solusi dan konflik bersenjata hanya akan menciptakan kebencian baru. Pihak-pihak yang berkonflik perlu menghentikan operasi militer sesegera mungkin dan mencegah situasi memburuk,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers pada Jumat (20/3).

Lin Jian menambahkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya memukul perdamaian dan stabilitas regional, tetapi juga berdampak langsung pada ketersediaan energi, kondisi keuangan, stabilitas perdagangan, dan lalu lintas pelayaran global. Ia menyebut konflik ini merusak kepentingan bersama negara-negara.

“China akan melanjutkan upaya mediasi untuk mengakhiri pertempuran dan untuk segera kembalinya perdamaian dan stabilitas ke Timur Tengah,” ungkap Lin Jian, menegaskan komitmen negaranya dalam mencari solusi damai.

Eskalasi Konflik di Kawasan Timur Tengah

Kondisi di Timur Tengah memburuk sejak serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika. Serangan balasan ini mengakibatkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan mengganggu pasar global serta penerbangan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya telah menyatakan, “Iran tidak akan menahan diri sama sekali untuk membalas jika infrastrukturnya diserang.” Pernyataan ini diikuti dengan serangan militer Iran ke target di Yerusalem Barat, Haifa, dan pangkalan udara militer Amerika, Al Dhafra, di Uni Emirat Arab pada Jumat (20/3).

Eskalasi perang antara Amerika dan Israel melawan Iran juga menyebabkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sekaligus memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.

Di lokasi lain, tentara Israel telah meningkatkan serangan udaranya di seluruh Lebanon sejak awal Maret, di tengah serangan lintas perbatasan dengan Hizbullah. Hal ini terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024.

Kementerian Kesehatan Lebanon pada Kamis (19/3) melaporkan bahwa sedikitnya 1.001 orang tewas dan 2.584 terluka akibat serangan Israel sejak 2 Maret lalu. Ribuan korban tersebut mencakup 118 anak-anak dan 79 perempuan yang tewas, serta 365 anak-anak dan 414 perempuan di antara mereka yang terluka.

Selain itu, otoritas Israel melarang pelaksanaan salat Idul Fitri di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki, dengan alasan keamanan di tengah perang dengan Iran. Namun, warga Palestina pada Jumat menyerukan umat muslim untuk berkumpul di Kota Tua guna melaksanakan salat Idul Fitri sedekat mungkin dengan Al-Aqsa, sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadhan.