Gayo Lues – Menjelang bulan suci Ramadan, akses jalan menuju wilayah terdampak banjir di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, masih terputus. Kondisi ini membuat kehidupan warga di daerah terpencil tersebut kian memprihatinkan, meski pemerintah mengklaim pemulihan pascabanjir Sumatra sudah membaik.

Banjir yang melanda pada 25-26 November 2025 lalu telah merusak panjangnya badan jalan dan puluhan jembatan, banyak di antaranya hanyut terbawa arus sungai. Akibatnya, pasokan bahan pokok menjadi sangat sulit dan pemasaran hasil pertanian warga terhambat.

Harga Bahan Pokok Melambung Tinggi

Penelusuran di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, menunjukkan harga bahan pokok di lokasi bekas banjir masih sangat tinggi. Akses jalur darat dari dan ke Blang Kejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues, menuju Kecamatan Pining masih ekstrem.

Hanya motor trail, sepeda motor yang didesain khusus, atau mobil berpenggerak 4×4 yang mampu menembus pedalaman yang terpencil di tengah pegunungan itu. Itupun, perjalanan harus menyeberangi sungai karena beberapa jembatan rangka baja telah hanyut.

Kamaruddin, Kepala Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, mengungkapkan tantangan yang dihadapi warga. “Itupun kalau tidak hujan deras. Begitu turun hujan, arus sungai naik sehingga tidak bisa lagi menyeberang. Tidak ada hujan pun kalau mobil biasa bisa kandas atau terbawa arus,” ujarnya.

Kesulitan akses ini berdampak langsung pada harga kebutuhan sehari-hari. Harga telur mencapai Rp100.000 per papan (30 butir), gula pasir Rp25.000 per kilogram, dan minyak goreng Minyakita Rp21.000 per liter. Untuk kebutuhan beras, warga masih mengandalkan sisa bantuan yang diharapkan cukup hingga Lebaran. Sementara itu, harga gas elpiji 3 kg berkisar Rp35.000-Rp40.000 per tabung dan bahan bakar Pertamax Rp18.000-Rp20.000 per liter.

Komunikasi Terbatas, Harapan Pasar Murah

Dalam hal komunikasi, warga harus mengandalkan jaringan Starlink dari bantuan relawan kemanusiaan. “Itu pun dipasang di menasah (kantor kepala desa). Untuk menelepon harus mendekat sekitar radius 30 meter baru ada jaringan,” tutur Kamaruddin.

Menjelang Ramadan, warga Kecamatan Pining sangat mengharapkan Pemerintah Provinsi Aceh dapat menggelar pasar murah bahan pokok. Hal ini diharapkan dapat meringankan beban mereka di tengah kondisi sulit pascabanjir yang berdekatan dengan bulan puasa.

Kamaruddin menambahkan, warga merasa terpinggirkan saat mengetahui adanya pasar murah di lokasi lain dalam sepekan terakhir. “Saya hari ini sengaja menempuh jarak 45 km melewati jalan ekstrem dan pendakian terjal dari Desa Pasir Putih Kecamatan Pining untuk turun ke Ibu Kota Blang Kejeren. Tujuannya adalah untuk mencari informasi dari pemerintah Kabupaten Gayo Lues, apakah ada bantuan bahan pokok atau pasar murah untuk warga kami. Lalu mencari tahu apakah benar ada bantuan daging Mameugang jelang Ramadan,” pungkasnya.

Kondisi ini menyoroti urgensi penanganan infrastruktur dan distribusi logistik yang lebih cepat di Gayo Lues agar warga tidak semakin terisolasi menjelang hari raya.