Menjelang keberangkatan ibadah haji, jemaah calon haji di Aceh diimbau untuk mempersiapkan diri secara matang, baik dari aspek spiritual, mental, maupun fisik. Persiapan ini ditekankan agar para jemaah dapat meraih predikat haji mabrur, sebuah kesempurnaan ibadah di sisi Tuhan.

Abdullah AR, Pembimbing Ibadah Haji dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Ibnu Mas’ud, Kabupaten Pidie, menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima. Menurutnya, tujuan utama adalah mencapai kesempurnaan ibadah yang hakiki.

Fokus pada Niat dan Kesempurnaan Ibadah

“Tidak hanya meraih ibadah makbul yang memiliki kesempurnaan rukun, wajib, dan syarat haji, tapi gapailah haji mabrur yang memiliki ruh kesempurnaan haji hakiki,” ujar Abdullah AR pada Sabtu (25/4).

Ia menekankan pentingnya meluruskan niat semata karena panggilan Allah sebagai fondasi utama agar ibadah haji diterima. Selain itu, pemahaman mendalam tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji juga krusial agar seluruh rangkaian dapat dijalankan dengan benar selama di Tanah Suci.

Abdullah juga mengingatkan jemaah untuk senantiasa menjaga sikap selama berhaji. Hal ini mencakup peningkatan kesabaran, menghindari prasangka buruk, serta memperkuat kepedulian sosial terhadap sesama, terutama jemaah yang membutuhkan bantuan.

“Ingat, perbanyak kesabaran, hilangkan keserakahan, buang perasaan buruk sangka, serta tingkatkan kepedulian sosial kepada sesama,” tuturnya.

Prioritaskan Pelayanan Ramah Lansia

Senada, Kepala Kantor Urusan Haji dan Umrah Kabupaten Pidie, Ihsan, mengimbau seluruh jemaah dan petugas untuk mengutamakan pelayanan ramah terhadap jemaah lanjut usia (lansia). Ia menyoroti bahwa masih banyak jemaah haji tahun 2026 yang berusia lanjut dan belum mahir membaca, sehingga membutuhkan perhatian khusus.

“Kami mengharapkan kepada yang lebih muda untuk ramah lansia dan saling peduli kepada mereka yang sudah uzur atau membutuhkan bantuan,” kata Ihsan.

Ihsan juga meminta petugas haji untuk memberikan pelayanan dengan sikap sabar, sopan, dan penuh empati. “Kami harapkan seluruh petugas melayani jemaah dengan ramah, penuh kesabaran, sopan santun, serta berempati. Hindari bertutur kasar, termasuk berbicara dengan intonasi tinggi,” ujarnya.