Jalur transportasi vital menuju Kabupaten Gayo Lues, Aceh, masih lumpuh total tiga bulan pasca-banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 24-27 November 2025. Kerusakan parah pada ruas jalan Peureulak-Lokop, Aceh Timur-Pining-Blang Kejeren memaksa ribuan pemudik Lebaran 1447 H menempuh perjalanan ekstra panjang dan mahal.
Penelusuran Media Indonesia pada Rabu (11/3) menunjukkan, kondisi jalan darat di Jalur Lokop, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Aceh Timur-Blang Kejeren, Gayo Lues, belum juga pulih. Badan jalan yang hancur dan tergerus banjir menyebabkan arus lalu lintas yang menghubungkan wilayah Pantai Antara, Timur, dan Tengah Tenggara Aceh terputus total.
Dampak Berat bagi Pemudik dan Ekonomi Lokal
Ratusan mahasiswa, perantau, dan santri yang menuntut ilmu di Aceh Timur atau Kota Langsa kini menghadapi kendala serius untuk mudik Lebaran. Jika biasanya mereka pulang ke Gayo Lues menggunakan minibus melalui jalur Peureulak-Blang Kejeren dengan waktu tempuh lima jam, kini mereka harus memutar haluan melalui Medan-Kutacane, Aceh Tenggara, yang memakan waktu hingga 24 jam.
Tidak hanya waktu, biaya perjalanan pun melonjak drastis. Kepala Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Gayo Lues, Kamaruddin, mengungkapkan kesulitan ini kepada Media Indonesia pada Rabu (11/3).
“Biasanya mudik dari Kota Langsa dan Kabuten Aceh Timur naik minibus melalui jalur Lokop-Pining ongkosnya berkisar Rp180.000 hingga Rp250.000. Kali ini harus mengeluarkan Rp800.000 hingga Rp1 juta,” kata Kamaruddin.
Kamaruddin menambahkan, kondisi ekonomi masyarakat pascabanjir yang belum pulih membuat beban ongkos transportasi mudik Lebaran sebesar itu sangat sulit ditanggung. Ribuan hektare lahan pertanian seperti sawah, kebun kopi, kemiri, kakao, dan pisang rusak tertutup longsor atau tertimbun lumpur.
“Berharap dari hasil panen raya durian dua bulan lalu, itupun terkendala jalan rusak sehingga tidak bisa diangkut ke Blang Kejeren Ibukota Kabupaten Gayo Lues. Apalagi mengeluarkan ke Aceh Timur dan Langsa yang badan jalannya hingga sekarang masih belum selesai di perbaiki,” tuturnya.
Ancaman Terhadap Perekonomian dan Pendidikan
Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh, M Adli Abdullah, menegaskan bahwa ratusan kilometer badan jalan dan belasan jembatan di jalur provinsi Lokop-Blang Kejeren masih hancur dan tidak dapat dilintasi. Kondisi ini tidak hanya mengganggu arus mudik Lebaran, tetapi juga menghambat distribusi ribuan ton hasil bumi dari Gayo Lues ke kawasan pesisir Timur, Utara Aceh, hingga pasar domestik Sumatra Utara.
“Padahal Jalur Peureulak-Lokop, Aceh Timur-Pining-Blang Kejeren, Gayo Lues adalah urat nadi perekonomian masyarakat pedalaman dua wilayah itu. Kalau jalur itu tidak segera selesai, berakibat buruk terhadap pasokan bahan pangan, sumber ekonomi,” ucap M Adli Abdullah, yang juga Dosen Senior USK.
Ia juga memperingatkan dampak jangka panjang dari kerusakan infrastruktur ini.
“Hal itu juga akan berimbas pada keberlanjutan pendidikan anak mereka pada berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh, Aceh Timur, Medan hingga Pulau Jawa,” tambahnya.
