Institut Teknologi Bandung (ITB) memperingati Dies Natalis ke-67 dengan Sidang Terbuka di Kampus Ganesha pada Senin (2/3). Acara ini menegaskan kembali komitmen ITB dalam memperkuat riset dan inovasi yang berdampak serta hilirisasi bahan alam demi kemandirian bangsa.

Dalam sambutannya, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITB, Budi Gunadi Sadikin, menyoroti pentingnya tata kelola yang adaptif dan akuntabel untuk menghadapi tantangan global. Ia menekankan peran strategis ITB dalam ekosistem inovasi nasional melalui sinergi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha.

Menurut Budi, “Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha dinilai menjadi kunci untuk mendorong hilirisasi riset yang berdaya saing.”

Senada, Ketua Senat Akademik (SA) ITB, Edy Tri Baskoro, menegaskan bahwa transformasi institusi harus tetap berlandaskan mutu akademik. Ia menyebut kebebasan akademik, integritas ilmiah, dan standar kualitas tinggi sebagai fondasi utama dalam menjaga marwah ITB serta memastikan kontribusi keilmuan yang relevan bagi pembangunan nasional.

Sementara itu, Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, memaparkan arah strategis ITB menuju target peringkat 150 World University pada tahun 2030. Pencapaian ini, menurutnya, bertumpu pada kualitas insan akademik dan penguatan substansi tridarma yang selaras dengan visi “ITB Berdampak”.

Tatacipta menjelaskan, “Melalui kolaborasi lintas disiplin, penguatan tata kelola, dan perluasan jejaring internasional, ITB diarahkan untuk terus menghadirkan solusi atas tantangan nasional di bidang industri, energi, dan kesehatan.”

Pada kesempatan orasi ilmiah, Direktur Riset dan Inovasi ITB sekaligus Guru Besar dari Kelompok Keahlian (KK) Biologi Farmasi Sekolah Farmasi (SF) ITB, Elfahmi, menyampaikan pandangannya mengenai “Hilirisasi dan Komersialisasi Riset dan Inovasi Bahan Alam Indonesia untuk Kemandirian Kesehatan”.

Elfahmi menyoroti besarnya potensi biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku obat dan produk kesehatan berbasis bahan alam. Namun, ia mengingatkan, “potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui proses hilirisasi yang terstruktur, mulai dari riset dasar, pengujian keamanan dan efektivitas, hingga pengembangan produk siap edar.”

Ia juga menegaskan bahwa riset tidak seharusnya berhenti pada publikasi atau paten. Hasil penelitian, lanjutnya, harus diterjemahkan menjadi produk yang bisa diproduksi, dimanfaatkan, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. “Untuk itu, kolaborasi erat antara kampus, industri, pemerintah, dan regulator sangat diperlukan,” tandas Elfahmi.

Menurut Elfahmi, kemandirian kesehatan merupakan bagian integral dari kedaulatan bangsa. Dengan memperkuat riset dan produksi berbasis sumber daya alam dalam negeri, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus menjadi pemain utama dalam industri kesehatan berbasis bahan alam.

sumber gambar: mediaindonesia.com