Ratusan jemaah memadati Masjid Agung Al-Falah Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh, pada Minggu (18/1), untuk mengikuti tausiah peringatan Isra Mi’raj 1447 H. Acara ini tidak hanya menjadi momen refleksi spiritual, tetapi juga renungan mendalam atas musibah banjir dahsyat yang melanda Sumatra, termasuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Doktor Teungku Muhammad Hatta Lc, yang akrab disapa Abiya Hatta, dalam ceramahnya menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan rahmat luar biasa yang dihadiahkan Allah untuk menghibur Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu A’laihi Wasallam. Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aksa, lalu bertemu dengan Allah untuk menerima ibadah salat lima waktu, adalah kegembiraan tiada terhingga di tahun Ammul Husni, tahun duka cita Rasulullah.
“Kala itu Sang Nabi Muhammad ditinggal pergi atas wafatnya Sang paman Abu Thalib, yang merupakan sosok tokoh paling berjasa dalam perjuangan Nabi menyebarkan Agama Islam. Lalu disusul lagi kepergian istri Saiyidah Khatijah binti Kwailid yang merupakan orang tercintanya pendukung da’wah ditengah kekejaman kaum Quraish,” ujar Abiya Hatta.
Pada tahun yang sama, Rasulullah juga diusir oleh penduduk Thaif dengan dilempari batu hingga kakinya terluka dan mengucurkan darah. Meskipun menghadapi kekerasan dan hinaan karena penolakan ajaran Islam, Rasulullah justru berdoa: “Wahai Tuhanku, tunjukilah kaum ku, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.”
Abiya Hatta menekankan bahwa musibah banjir Sumatra yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, harus menjadi hikmah luar biasa. Ia berharap setelah musibah besar ini berakhir, Allah akan melimpahkan rahmat kepada hamba-Nya, terutama mereka yang sabar.
“Jutaan korban banjir di lebih separuh kawasan Provinsi Aceh dan tetangga Sumatra Utara serta Sumatra Barat harus yakin di balik cobaan Allah ada rahasia luar biasa bagi mereka. Kemudian perlu meningkatkan keimanan bahwa apa yang terjadi itu tidak luput dari kehendak dan kekuasaan yang maha kuasa,” jelasnya.
Ia mengajak jemaah untuk bercermin pada tahun duka cita Rasulullah yang diganti dengan peristiwa Isra Mi’raj. “Sebuah peristiwa luar biasa yang malam itu ditentukan salat lima waktu. Satu-satunya amal ibadah yang mendapatkan langsung dari Allah tanpa perantara Malaikat Jibril,” tutur Abiya Hatta, disambut keheningan ratusan jemaah yang tampak khidmat merenungi makna di balik bencana 24-27 November 2025 lalu.
Sementara itu, Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Pidie, Drh Teungku Fadli, menjelaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Pidie bersama Jemaah Safari Subuh Masjid Al-Falah ini bertujuan sebagai renungan bersama akan kebesaran Allah. Menurutnya, di balik kesusahan akan menguatkan keimanan, dan setelahnya akan ada kegembiraan, kenikmatan, serta hikmah tiada tara.
“Melalui contoh nyata akibat kerusakan alam itu dapat melahirkan kesadaran untuk memelihara kelestarian alam dan tidak merusak lingkungan hidup. Bahwa banjir yang sesungguhnya Rahmah Allah, tidak akan berubah menjadi musibah besar kalau bukan ulah tangan manusia merusak nya,” tambah Fadli.
Bersamaan dengan renungan ini, Panitia Safari Subuh Masjid Al-Falah Sigli juga membuka donasi untuk perlengkapan dan furnitur isi rumah. Bantuan ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu yang rumahnya dibangun di Kemukiman Laweueng, Kecamatan Muara Tiga, yang merupakan unit ke-14 dari sedekah patungan jemaah Al-Falah.
