Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Lampung, Ismen Mukhtar, menyerukan pentingnya peningkatan edukasi mengenai manfaat vaksinasi bagi kesehatan anak. Hal ini disampaikan Ismen di Bandarlampung pada Senin, 6 April 2026, sebagai upaya menekan penolakan vaksinasi di tengah masyarakat.
Menurut Ismen, pesatnya perkembangan teknologi turut memicu penyebaran narasi dan gerakan anti-vaksin di media sosial. Kondisi ini dinilai sebagai ancaman serius bagi kesehatan publik karena dapat menimbulkan keraguan terhadap program vaksinasi.
“Memang dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat ini, narasi anti vaksin atau gerakan anti vaksin banyak ditemukan di media sosial. Dan ini sebenarnya menjadi salah satu ancaman bagi kesehatan, karena menimbulkan keraguan akan vaksin,” ujar Ismen Mukhtar.
Untuk membendung meluasnya keraguan tersebut, Ismen menekankan perlunya perluasan dan penguatan edukasi tentang manfaat vaksinasi bagi anak. Ia menyoroti bagaimana narasi anti-vaksin seringkali mengemas kejadian umum sebagai dampak negatif vaksin.
“Terkadang narasi anti vaksin ini dikemas dengan sejumlah kejadian, seperti demam pada anak setelah divaksin, ini sebenarnya adalah hanya efek vaksin dan tubuh mulai beraksi. Lalu ada kejadian kejang setelah divaksin, ini sebenarnya bukan vaksin yang bermasalah, terkadang virus sudah menginfeksi jauh sebelum divaksinasi, karena virus tentu memiliki masa inkubasi dan ini kadang dinarasikan dampak dari vaksin. Edukasi hal seperti ini yang perlu diperluas dan diperkuat oleh pemerintah serta pihak terkait kepada masyarakat,” jelasnya.
Ismen menambahkan, penjelasan yang lugas dan masif mengenai manfaat serta cara kerja vaksin akan sangat membantu menepis keraguan masyarakat. Ia juga menggarisbawahi peran berbagai pihak dalam memberikan pemahaman yang benar.
“Peran berbagai pihak menjelaskan secara lugas ke masyarakat ini penting. Bila ada orang tua yang menolak vaksinasi kepada anaknya, harus diberi penjelasan bahwa anak mereka dapat sehat karena diselamatkan oleh anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi lengkap,” tegas Ismen.
Program vaksinasi, lanjut Ismen, berperan krusial dalam membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Kekebalan ini melindungi anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi dari berbagai paparan virus penyakit menular.
“Herd immunity atau kekebalan kelompok ini terjadi ketika individu dalam kelompok banyak yang kebal akan paparan virus, jadi individu yang rentan ikut terlindungi. Oleh karena itu kita harus menjaga cakupan imunisasi agar anak terlindungi dengan terciptanya kekebalan kelompok,” paparnya.
Ismen mengimbau masyarakat agar lebih selektif dalam menyaring informasi terkait vaksinasi dan tidak mudah terpengaruh narasi anti-vaksin. Pengaruh tersebut berisiko menurunkan kesehatan anak akibat paparan virus penyakit menular.
“Jangan tunggu anak sakit baru tersadar akan pentingnya vaksinasi, tapi kalau bisa sebelum sakit, bawa anak untuk divaksin. Karena manfaat vaksin ini sangat baik untuk menjaga kesehatan anak,” pungkasnya.
