Angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan rudal terhadap pasukan Amerika Serikat sebagai balasan atas serangan AS terhadap sebuah kapal tanker. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang kembali memuncak di Selat Hormuz, mengancam gencatan senjata yang baru disepakati antara kedua negara.

Televisi nasional Iran melaporkan serangan rudal tersebut pada Kamis (7/5), mengutip sumber militer. Sebelumnya, Komando Pusat AS pada Rabu (6/5) mengumumkan pasukannya telah melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Iran di sekitar Teluk Oman. Laporan Iran tidak merinci hubungan langsung antara kedua insiden tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah laporan Iran menyebut kapal-kapal AS mundur dari Selat Hormuz usai menghadapi tembakan pasukan Iran dan mengalami kerusakan. Pada hari yang sama, suara ledakan terdengar di barat Teheran, dengan kantor berita Mehr mengonfirmasi sistem pertahanan udara Iran beroperasi di ibu kota.

Fox News, mengutip pejabat senior militer AS, melaporkan bahwa AS juga melancarkan serangan terhadap Pelabuhan Qeshm dan Kota Bandar Abbas. Namun, pihak AS menegaskan bahwa serangan tersebut tidak dimaksudkan untuk memulai kembali perang.

Eskalasi ini terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa sipil. Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata pada 7 April, namun perundingan lanjutan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu Iran mempersiapkan “proposal gabungan.”

Akibat disrupsi ini, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, rute kunci pasokan minyak dan LNG global, hampir berhenti total. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak di pasar internasional.