Kolaborasi antara desainer kondang asal Bandung, Deden Siswanto, dengan merek scarf Kisera yang juga berbasis di Bandung, berhasil memukau pengunjung pada peragaan busana di Central Park Jakarta, Sabtu (7/3). Para penonton dibuat terkejut saat mengetahui bahwa busana yang ditampilkan di panggung ternyata disusun dari beberapa lembaran scarf.

Inovasi ini menandai babak baru dalam industri modest fashion Indonesia, memperkenalkan konsep busana yang dirangkai dari lembaran scarf tanpa melalui proses pemotongan. Gagasan kolaborasi ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan perspektif segar mengenai penggunaan kerudung atau scarf dalam dunia mode, yang selama ini seringkali hanya dipandang sebagai pelengkap busana.

Ardhina Dwiyanti, pemilik Kisera, pada Selasa (10/3) mengungkapkan bahwa ide ini muncul dari keinginannya untuk mengangkat scarf agar tidak lagi sekadar menjadi aksesori dalam ranah fashion muslim. “Biasanya kalau fashion show, kerudung sering hanya jadi pelengkap saja. Orang lebih melihat desain bajunya. Padahal sejak awal saya ingin menjadikan scarf bukan hanya aksesoris, tapi bagian dari fashion itu sendiri,” tuturnya.

Melalui kolaborasi dengan Deden Siswanto, lembaran scarf Kisera diolah menjadi beragam bentuk busana menggunakan teknik styling dan penggabungan kain tanpa pemotongan. Konsep ini tidak hanya menyajikan tampilan baru, tetapi juga memperkuat nilai keberlanjutan dalam mode.

Deden Siswanto menjelaskan, teknik yang digunakan dalam koleksi ini disebut “mulas”. Teknik ini melibatkan pembentukan busana dengan menggabungkan beberapa scarf menggunakan peniti atau pengait, tanpa perlu memotong kain. “Orang biasanya membeli satu scarf hanya untuk kerudung. Tapi kalau membeli dua atau beberapa lembar, sebenarnya bisa diolah menjadi busana. Kami membentuk pattern baru tanpa menggunting kain,” tandas Deden.

Dalam salah satu koleksinya, Deden bahkan menggabungkan hingga delapan lembar pashmina untuk menciptakan sebuah outer panjang atau jubah tanpa lengan. Komposisi warna dan motif yang berbeda dari scarf-scarf tersebut menghasilkan dimensi visual yang lebih kaya dan menarik.

“Ketika dilihat dari jauh mungkin orang hanya melihat itu seperti baju. Tapi ketika didekati, mereka baru menyadari bahwa itu sebenarnya tersusun dari beberapa scarf dengan teknik tertentu,” sambungnya.

Konsep ini, lanjut Deden, juga mengusung semangat sustainable fashion atau mode berkelanjutan karena meminimalkan limbah kain. Hampir seluruh material dimanfaatkan, bahkan sisa kain diolah menjadi aksesori seperti sabuk berbentuk bunga atau perhiasan. “Prinsipnya zero waste. Kalau ada sisa kain, kami gunakan lagi untuk aksesoris atau detail busana,” ujarnya.

Respons publik terhadap koleksi ini sangat positif. Banyak penonton yang terkejut saat mengetahui bahwa busana yang mereka saksikan di panggung terbuat dari susunan scarf. “Modelnya saja sampai bertanya, ‘Ini benar scarf ya?’ Itu menunjukkan bahwa scarf sebenarnya bisa berkembang lebih dari sekadar pelengkap busana,” beber Ardhina.

Kolaborasi ini diharapkan dapat terus melahirkan konsep-konsep baru dalam modest fashion dan mendorong kreativitas para desainer dalam memanfaatkan material yang ada.