Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Banten, dr. Dewi Kartika Suryani, menekankan pentingnya kebiasaan makan bersama anggota keluarga untuk meningkatkan kualitas asupan nutrisi anak, khususnya bagi mereka yang berusia di bawah dua tahun. Kebiasaan ini mendorong anak lebih mau makan, berani mencoba makanan baru, serta meniru perilaku positif orang di sekitarnya.
Menurut dr. Dewi, masih banyak orang tua yang membiarkan anak makan sambil menonton. Padahal, pada usia dini, anak belum memiliki kebiasaan makan yang baik dan perlu dibentuk melalui rutinitas yang konsisten. “Saat ini masih banyak orang tua yang membiarkan anak makan sambil menonton. Padahal, pada usia dini anak belum memiliki kebiasaan makan yang baik, kecuali dibentuk melalui rutinitas yang konsisten. Membiasakan anak makan bersama adalah kuncinya,” ujar dr. Dewi dalam acara peresmian Mika Daycare & Preschool di Serpong, Sabtu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, makan sambil menonton membuat anak menjadi pasif dan mengurangi stimulasi yang sangat penting, terutama dalam dua tahun pertama kehidupan hingga usia lima tahun. Anak membutuhkan interaksi aktif, bukan sekadar hiburan pasif. “Jika di rumah tidak tersedia lingkungan yang mendukung, seperti kehadiran anggota keluarga yang bisa berinteraksi intens, maka penting bagi anak untuk mendapatkan stimulasi dari lingkungan luar,” tambah dr. Dewi yang juga bertugas di RS Bunda Ciputat.
Selain stimulasi, faktor kelekatan atau attachment juga sangat memengaruhi tumbuh kembang anak. Anak membutuhkan sosok pengasuh utama yang konsisten agar merasa aman. “Pergantian pengasuh yang terlalu sering dapat membuat anak merasa tidak nyaman, tidak percaya, dan sulit bereksplorasi. Rasa aman ini penting untuk membangun kepercayaan diri dan perkembangan emosional anak,” jelasnya.
Aspek kesehatan juga berperan besar. Istirahat yang cukup dan asupan makanan yang baik akan membentuk daya tahan tubuh yang lebih kuat. “Dalam kondisi yang sama misalnya terpapar virus, anak dengan pola tidur dan makan yang baik cenderung lebih cepat pulih dibandingkan anak yang kurang istirahat,” ungkap dr. Dewi.
Tidur menjadi faktor krusial, terutama bagi anak di bawah usia empat tahun yang masih membutuhkan tidur siang teratur. Tidur tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi juga berperan dalam proses konsolidasi memori. “Misalnya, ketika anak belajar keterampilan baru, seperti merangkak atau aktivitas lainnya, tidur membantu otak menyimpan dan memperkuat pembelajaran tersebut,” paparnya.
dr. Dewi menyimpulkan, “Kombinasi nutrisi yang baik, stimulasi yang cukup, kelekatan yang konsisten, kesehatan yang terjaga, serta lingkungan yang aman akan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.”
