Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Wakil Wali Kota Wawan Harmawan memaparkan capaian kepemimpinan mereka yang menitikberatkan pada perubahan pola hidup masyarakat. Pendekatan yang diusung meliputi rekonstruksi sosial, penguatan gotong royong, hingga peningkatan keamanan lingkungan di Kota Yogyakarta.
Hasto Wardoyo menegaskan, fokus utama kepemimpinannya adalah melakukan rekonstruksi sosial atau yang ia sebut sebagai “noto urip bareng”. Ini adalah upaya menata kembali kebiasaan hidup masyarakat agar lebih tertib, sehat, dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun kota yang nyaman.
Transformasi Kebiasaan Masyarakat: Dari Sampah hingga Gotong Royong
Ia mencontohkan perubahan signifikan dalam kebiasaan masyarakat terkait pengelolaan sampah. “Dulu masyarakat masih sering buang sampah sembarangan atau war wer, sekarang kita ajak untuk mulai memilah sampah dari rumah,” ujar Hasto saat pemaparan di Taman Budaya Embung Giwangan pada Senin (30/3).
Program edukasi dan pendampingan terkait pemilahan sampah ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong kesadaran lingkungan serta mendukung sistem ekonomi sirkular di Kota Yogyakarta.
Selain rekonstruksi sosial, Hasto juga menekankan pentingnya nilai gotong royong sebagai solusi dalam mengatasi persoalan sosial, termasuk kemiskinan. Salah satu implementasi nyata adalah program bedah rumah yang rutin dilaksanakan setiap minggu.
Ia menegaskan, program ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan murni hasil kolaborasi dan gotong royong masyarakat. “Warga kurang mampu bisa menyelesaikan kemiskinannya dengan gotong royong. Bedah rumah ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan bisa menghadirkan solusi,” jelasnya.
Program tersebut tidak hanya membantu masyarakat kurang mampu mendapatkan hunian layak, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Blusukan dan Visi Kota Budaya Produktif
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menambahkan bahwa dirinya bersama Hasto aktif turun langsung ke kampung-kampung melalui kegiatan blusukan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana menyerap aspirasi masyarakat, tetapi juga sebagai bentuk keteladanan langsung, terutama dalam program pemilahan sampah. “Kami tidak hanya mengajak, tapi juga memberi contoh,” ujar Wawan.
Meski berbagai capaian telah diraih, Hasto dan Wawan mengakui masih terdapat pekerjaan rumah ke depan, khususnya dalam mengembangkan Kota Yogyakarta sebagai kota budaya yang produktif secara ekonomi. Hasto menekankan pentingnya mengoptimalkan potensi budaya agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Salah satu langkah strategis yang akan dilakukan adalah memperkuat kalender event serta mengembangkan potensi wilayah berbasis budaya. “Kota budaya harus produktif. Budaya tidak hanya dilestarikan, tapi juga harus bisa memberikan dampak ekonomi,” papar Hasto.
Menutup pemaparannya, Hasto menyampaikan optimisme. “Dengan fondasi yang telah dibangun selama satu tahun pertama, kami optimistis dapat terus membawa Kota Yogyakarta menjadi kota yang tidak hanya nyaman dan aman, tetapi juga produktif berbasis budaya dan partisipasi masyarakat,” imbuhnya.
