Sejumlah peristiwa penting dan menarik mewarnai pemberitaan di Nusa Tenggara Barat pada Jumat, 27 Maret 2026. Dari fluktuasi harga emas global dan domestik, kasus penganiayaan karyawati minimarket di Dompu, hingga perkembangan penyaluran dana desa di Lombok Tengah, serta tersendatnya pembangunan Kampung Nelayan di Mataram, menjadi sorotan publik.

Harga Emas Dunia dan Domestik Berfluktuasi

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi harga emas dunia berpotensi menembus level 5.000 hingga 6.000 dolar AS per troy ons sepanjang tahun ini. Prediksi ini muncul di tengah koreksi tajam harga emas beberapa waktu terakhir, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.

Sementara itu, harga emas Antam yang dipantau dari laman Logam Mulia pada Jumat pukul 09.07 WIB menunjukkan penurunan signifikan sebesar Rp40.000. Dari semula Rp2.850.000, harga emas Antam per gram kini menjadi Rp2.810.000. Di sisi lain, laman Sahabat Pegadaian pada pukul 07.32 WIB juga melaporkan penurunan harga emas UBS menjadi Rp2.841.000 dan Galeri24 ke angka Rp2.827.000 per gram. Pada waktu yang sama, harga emas Antam di laman tersebut tercatat Rp2.950.000 per gram.

Kasus Penganiayaan Karyawati Minimarket di Dompu Ditangani Polres

Sebuah kasus penganiayaan yang menimpa karyawati Minimarket Dragon Mart di Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kini telah ditangani oleh pihak kepolisian resor setempat. Insiden ini memicu reaksi warga yang sempat melakukan pemblokiran jalan sebagai bentuk protes.

Penyaluran Dana Desa di Lombok Tengah Capai 94 Desa

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Lombok Tengah, NTB, melaporkan capaian signifikan dalam penyaluran Dana Desa (DD) hingga triwulan I (Januari–Maret) 2026. Sebanyak 94 dari total 142 desa di Lombok Tengah telah menikmati penyaluran dana tersebut, sementara 48 desa lainnya masih dalam proses menunggu.

Pembangunan Kampung Nelayan Ampenan Mataram Tersendat, DKP NTB Mediasi

Proyek pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang berlokasi di Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, mengalami kendala. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) turun tangan memfasilitasi mediasi antara masyarakat setempat dan pihak kontraktor untuk mencari solusi atas tersendatnya pembangunan ini.