Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan tren penurunan signifikan dalam periode pengamatan 16-28 Februari 2026. Meski demikian, status gunung api tersebut masih dipertahankan pada Level II (Waspada), dan masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 28 Februari 2026, aktivitas Ili Lewotolok memang menurun. “Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 28 Februari 2026, aktivitas Gunung Ili Lewotolok menurun signifikan. Namun tingkat aktivitasnya masih berada pada level II atau waspada,” ujar Lana Saria dalam keterangan tertulis pada Kamis (5/3).

Pengamatan Visual dan Kegempaan

Secara visual, gunung api tersebut terpantau jelas, meskipun sesekali tertutup kabut. Asap kawah terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang, mencapai ketinggian sekitar 10 hingga 100 meter dari puncak.

Dalam periode pengamatan yang sama, tercatat beberapa kali erupsi dengan tinggi kolom berkisar 50 hingga 250 meter dari puncak. Kolom erupsi ini bervariasi warnanya, dari putih, kelabu, hingga hitam.

Dari sisi kegempaan, aktivitas Gunung Ili Lewotolok masih didominasi oleh gempa hembusan. Data menunjukkan 698 kali gempa erupsi, 2.678 kali gempa hembusan, 1 kali tremor harmonik, 7 kali tremor non-harmonik, 2 kali gempa hybrid, 1 kali gempa vulkanik dangkal, 17 kali gempa vulkanik dalam, 8 kali gempa tektonik lokal, serta 4 kali gempa tektonik jauh.

Analisis energi seismik menggunakan metode Real-time Seismic Amplitude Measurements (RSAM) juga mengindikasikan tren penurunan energi, sejalan dengan berkurangnya aktivitas kegempaan. Selain itu, pengamatan deformasi menggunakan alat EDM dan GPS menunjukkan fluktuasi nilai yang cenderung stabil, tanpa adanya perubahan signifikan pada tubuh gunung, baik berupa inflasi (penggembungan) maupun deflasi (pengempisan).

Imbauan dan Kewaspadaan

Sehubungan dengan status Level II (Waspada) ini, masyarakat di sekitar gunung, pengunjung, dan wisatawan diimbau untuk tidak memasuki serta tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Warga juga diminta untuk tidak panik jika mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah, karena hal tersebut merupakan bagian dari aktivitas gunung api yang sedang mengalami erupsi.

Selain itu, masyarakat disarankan untuk:

  • Menggunakan masker guna menghindari dampak abu vulkanik.
  • Menutup tempat penampungan air bersih.
  • Mewaspadai potensi banjir lahar, terutama saat musim hujan.
sumber gambar: gesit.id