Ancaman fenomena El Nino dan potensi kemarau panjang kini menghantui masyarakat di Provinsi Aceh dan seluruh Nusantara. Kondisi ini mendorong para petani padi sawah dan palawija untuk segera mengolah lahan mereka, berpacu dengan waktu sebelum kekeringan melanda dan berpotensi menimbulkan kerawanan pangan.
Di Kabupaten Pidie, para petani telah mengambil langkah proaktif dengan mempercepat jadwal tanam padi. Di Kecamatan Indrajaya, misalnya, setelah panen musim rendengan berakhir sekitar sebulan lalu, petani kini kembali sibuk mengolah tanah.
Petani Pidie Berpacu dengan Waktu
Ridwan, seorang petani di Kemukiman Garot, Kecamatan Indrajaya, mengungkapkan bahwa benih di persemaian sudah berusia antara 7 hingga 10 hari. “Benih di persemaian sudah berusia berkisar 7 hingga 10 hari. Kini sedang mengejar agar pengolahan tanah cepat selesai. Harapannya pekan depat sudah mulai tanam,” tutur Ridwan pada Kamis (30/4).
Situasi serupa juga terlihat di Kecamatan Peukan Baro. Sebagian petani telah memulai penyemaian benih, sementara sebagian lainnya masih mempersiapkan lahan persemaian. Teungku Jhuni Wahab, seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Peukan Baro, menjelaskan bahwa tradisi “khanduri blang” atau kenduri turun ke sawah baru saja dilaksanakan.
“Senin pekan lalu kami baru saja menggelar khanduri blang (kenduri turun ke sawah). Dengan gerak cepat Insya Allah dalam beberapa hari ini sudah ramai menyemai benih,”
kata Teungku Jhuni. Ia juga menekankan pentingnya percepatan penaburan benih dan pengolahan tanah untuk menghindari puncak El Nino yang diperkirakan terjadi sekitar dua bulan ke depan.
“Pacu dulu sampai selesai tanam. Setelah itu tidak terlalu bahaya. Tinggal saja mengontrol air. Walau tidak ada air tergenang, paling penting kelembaban tanah terjaga,”
tambah Teungku Jhuni, yang juga tokoh masyarakat Peukan Baro, menggarisbawahi bahwa kelembaban tanah adalah kunci setelah penanaman selesai.
Adaptasi dan Penguatan Cadangan Air
Menyikapi fenomena ini, Dekan Fakultas Pertanian (FK) Universitas Syiah Kuala (USK), Profesor Sugianto, mengingatkan bahwa El Nino adalah fenomena alam yang tidak dapat dicegah. Oleh karena itu, petani harus mampu beradaptasi dengan kondisi alam yang ada. Ia menyarankan pemilihan varietas padi yang tahan terhadap kondisi panas dan keterbatasan air sebagai strategi penting untuk meminimalkan risiko gagal panen.
Selain itu, Profesor Sugianto juga menekankan urgensi penguatan cadangan air sebagai langkah antisipatif yang krusial dalam menghadapi musim kemarau panjang.
