Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menegaskan bahwa peletakan batu pertama (groundbreaking) enam dari 18 proyek hilirisasi Danantara akan secara signifikan menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saing industri nasional. Pernyataan ini disampaikan Anindya di Jakarta pada Senin, 9 Februari 2026.
Menurut Anindya, hilirisasi atau downstreaming merupakan kunci utama transformasi ekonomi Indonesia. Proses ini memungkinkan optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam melalui pengolahan di dalam negeri, sehingga tidak hanya mengekspor komoditas mentah.
“Downstreaming itu membawa nilai tambah yang paling penting. Nilai tambah untuk pekerjaan, nilai tambah untuk investasi, dan juga perdagangan,” ujar Anindya.
Ia menambahkan bahwa dengan pengolahan yang lebih mendalam, Indonesia dapat beralih dari sekadar pengekspor komoditas primer seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara. Sebaliknya, Indonesia akan mampu menghasilkan produk turunan dengan kandungan nilai tambah yang lebih tinggi dan daya saing yang kuat di pasar global.
“Supaya Indonesia bisa ekspornya bukan saja palm oil atau batu bara, tapi juga semakin mempunyai nilai tambah,” katanya.
Anindya juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi sebagai penopang utama dalam proses hilirisasi. Ia memberikan contoh potensi pengolahan silika menjadi wafer silikon untuk industri semikonduktor, yang diharapkan dapat mendorong Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global.
Enam Proyek Hilirisasi Danantara Fase I
Sebelumnya, Danantara telah melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I dari total 18 proyek yang direncanakan pada Jumat, 6 Februari 2026. Keenam proyek tersebut meliputi:
- Proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan total investasi 3 miliar dolar AS. Proyek ini juga akan meningkatkan kapasitas produksi di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
- Proyek bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, yang ditargetkan memproduksi etanol sebanyak 30 ribu kiloliter per tahun.
- Proyek biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah, yang akan memproduksi avtur hingga 6.000 barel per hari.
- Fasilitas integrated poultry yang tersebar di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Fasilitas ini diharapkan menambah produksi 1,5 juta ton daging ayam, 1 juta ton telur, serta menciptakan 1,46 juta lapangan kerja baru.
- Pabrik garam dan mechanical vapor recompression (MVR) di Gresik, Manyar, dan Sampang. Proyek ini akan menambah kapasitas produksi PT Garam sebesar 380 ribu ton per tahun, sekaligus memperkuat swasembada garam nasional.
