Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Kamis (20/3/2026) menyerukan Israel dan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan operasi militer terhadap Iran. Ia memperingatkan bahwa konflik tersebut berisiko lepas kendali, menyebabkan penderitaan besar bagi warga sipil, serta berdampak serius pada perekonomian global.

Berbicara kepada wartawan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin Uni Eropa, Guterres menegaskan pentingnya diplomasi. “Sudah saatnya supremasi hukum mengalahkan hukum kekuatan. Sudah saatnya diplomasi mengalahkan perang,” kata Guterres.

Selain itu, Sekjen PBB tersebut juga mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah serangan militer AS dan Israel terhadap negara tersebut. Guterres juga meminta Iran menghentikan serangan balasan terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk, dengan alasan bahwa negara-negara tersebut “tidak pernah menjadi pihak dalam konflik ini.”

“Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz menyebabkan penderitaan besar bagi banyak orang di seluruh dunia yang tidak ada kaitannya dengan konflik ini,” tegas Guterres.

Eskalasi ketegangan ini bermula pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Akibat eskalasi di sekitar Iran, lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, terhenti secara de facto. Kondisi ini berdampak signifikan pada ekspor dan produksi minyak di kawasan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pidato pertamanya pada 12 Maret menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup, dan menyebutnya sebagai alat tekanan dalam konflik dengan AS dan Israel.