SURABAYA – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjachja Nugraha, memperingatkan potensi risiko serius dalam sistem pendidikan berbasis disiplin tinggi jika tidak dikelola dengan baik. Potensi tersebut meliputi munculnya senioritas berlebihan, tekanan tak terkontrol, hingga penyimpangan berupa kekerasan, yang menurutnya harus menjadi perhatian serius.

Pernyataan tersebut disampaikan Achmad Tjachja Nugraha saat memberikan Kuliah Umum di Kampus Akademi Angkatan Laut (AAL) Surabaya pada Selasa (28/4). Ia menegaskan bahwa pembinaan di institusi seperti AAL harus tetap berada dalam koridor pendidikan yang berbasis disiplin tinggi.

Ancaman Kekerasan dan Senioritas

Achmad menyoroti tantangan sosial dalam proses pembinaan, khususnya terkait potensi kekerasan dan bullying di lingkungan pendidikan. “Kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik, verbal, sosial, maupun digital, adalah penyimpangan dari tujuan pendidikan,” tegasnya.

Menurutnya, faktor seperti budaya senioritas yang keliru dan kurangnya empati menjadi pemicu utama munculnya tindakan kekerasan. Dampak kekerasan, lanjut Achmad, tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental, prestasi akademik, hingga kehidupan sosial korban.

“Kekerasan bukan bagian dari pendidikan. Justru itu merusak tujuan pendidikan itu sendiri,” ujarnya dengan tegas.

Pendidikan Ideal: Keseimbangan Disiplin dan Kemanusiaan

Achmad menekankan bahwa pendidikan yang ideal harus mampu menyeimbangkan antara ketegasan dan nilai kemanusiaan. Disiplin dan ketegasan tetap penting, tetapi harus dijalankan dalam koridor yang mendidik, bukan menekan.

“Kepemimpinan sejati lahir dari keteladanan, kepemimpinan dibangun melalui keteladanan dan interaksi nyata. Keteladanan adalah bagian dari pendidikan itu sendiri,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa masa depan TNI AL tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik dan strategi, tetapi juga oleh kualitas karakter para perwiranya. Achmad melihat TNI AL memiliki potensi untuk menjadi bagian terdepan dalam profesionalisme dan karakter mulia.

Pentingnya integrasi pendidikan dalam membentuk perwira TNI Angkatan Laut (TNI AL) yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga kuat secara karakter, menjadi sorotan dalam kuliah umum tersebut. “Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi bagaimana membentuk karakter, sikap, dan tanggung jawab seseorang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Dalam paparannya, Achmad Tjachja mengatakan, pendidikan sejatinya merupakan proses membentuk manusia secara utuh, perpaduan antara ilmu dan karakter. Keberhasilan pendidikan, menurutnya, tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik, tetapi juga dari integritas dan kepribadian individu.

“Pendidikan adalah integrasi antara ilmu dan karakter. Hasil akhirnya adalah manusia yang cerdas, berkarakter, dan memiliki makna dalam hidupnya,” pungkasnya.