Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mendesak pembenahan serius sistem perlindungan sosial menyusul tragedi bunuh diri seorang siswa SD di Kabupaten Ngada. Melkiades menegaskan pentingnya langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Melkiades mengungkapkan, pihaknya telah menjalin komunikasi dengan bupati, wakil bupati, serta berbagai pihak terkait di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat sejak awal peristiwa ini mencuat. Namun, ia menekankan bahwa fokus utama saat ini bukanlah mencari pembenaran atau membuka kembali perdebatan mengenai sebab-musabab kejadian tragis tersebut.
“Ini sudah terjadi. Yang paling penting sekarang adalah penyelesaian secara baik, termasuk penguburan yang layak serta penyelesaian persoalan-persoalan yang berkaitan dengan adat dan sosial,” ujar Melkiades kepada wartawan di Kupang, Rabu (4/2).
Gubernur meminta agar pembahasan lanjutan segera dilakukan, sekaligus memastikan dukungan konkret bagi keluarga korban. Ia menambahkan, pemerintah provinsi akan terlibat langsung dalam pemenuhan kebutuhan dasar keluarga yang berduka.
“Kami dari provinsi memastikan dukungan yang dibutuhkan, termasuk rencana membangun rumah layak huni agar benar-benar pantas untuk ditinggali,” tegasnya.
Tragedi ini menimpa YBS, seorang siswa berusia 10 tahun di salah satu SD negeri di Kabupaten Ngada, yang mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1) lalu. Sebelum kejadian, YBS sempat menulis pesan perpisahan untuk sang ibu dalam secarik kertas.
YBS diketahui sempat meminta uang sebesar Rp10.000 kepada ibunya untuk membeli pulpen dan buku tulis. Namun, sang ibu yang bekerja serabutan di sektor pertanian tidak memiliki uang saat itu. Sementara itu, ayah YBS telah lama meninggalkan keluarga mereka. Dalam kondisi terpuruk akibat kemiskinan, YBS bahkan dititipkan kepada sang nenek yang tinggal tidak jauh dari kediaman ibunya.
