MATARAM, Kilatnews.co – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menyoroti variasi harga tiket bus yang dijual kepada penumpang pada arus mudik Lebaran 2026 di Terminal Mandalika, Kota Mataram. Ia secara khusus meminta penertiban praktik penjualan tiket melalui pihak ketiga yang kerap memicu persoalan harga.

Sorotan tersebut disampaikan Miq Iqbal, sapaan akrab Gubernur, saat meninjau arus mudik Lebaran bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTB pada Minggu (15/3/2026). Turut hadir Kapolda NTB Irjen Pol Edi Murbowo, Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Moch. Sjamsul Arief, dan Kajati NTB Wahyudi.

Variasi Harga Tiket Bus dan Peran Pihak Ketiga

Menurut Miq Iqbal, perbedaan harga tiket tidak selalu berarti pelanggaran. Hal ini karena adanya variasi kelas layanan dan fasilitas bus yang ditawarkan. “Tarif yang diatur pemerintah sebenarnya berlaku untuk kelas ekonomi. Sementara di lapangan banyak bus yang memiliki fasilitas tambahan seperti leg rest dan layanan lainnya. Karena fasilitas-nya berbeda, maka kelasnya juga berbeda dan harga tiket-nya ikut bervariasi,” jelas Lalu Muhamad Iqbal.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah bersama aparat penegak hukum telah mengingatkan perusahaan otobus (PO) agar tetap mematuhi batas harga tertinggi yang telah ditetapkan. Ia juga menyoroti potensi masalah yang muncul dari mekanisme penjualan tiket melalui pihak ketiga.

“Banyak pembeli tidak membeli langsung melalui perusahaan bus, tetapi melalui pihak ketiga. Di situlah sering muncul persoalan harga. Bahkan ada laporan adanya oknum yang memaksa penjualan tiket dengan harga tinggi demi mendapatkan komisi. Praktik seperti ini tentu harus ditertibkan,” tegasnya.

Peningkatan Fasilitas Terminal dan Prediksi Pemudik

Selain masalah harga tiket, Iqbal juga menilai fasilitas Terminal Mandalika secara umum sudah cukup baik. Namun, ia menekankan perlunya penyempurnaan, baik dari sisi fungsi maupun penataan kawasan.

“Kita ingin terminal ini memiliki standar pelayanan yang baik, bahkan kalau bisa suasananya seperti di bandara. Pengaturan area publik dan area khusus penumpang juga perlu ditata lebih baik agar pelayanan semakin tertib,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Terminal Mandalika Martin mengakui bahwa harga tiket setiap bus memang berbeda, tergantung tujuan dan kelas layanan. Untuk tiket rata-rata dijual di kisaran Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, disesuaikan dengan fasilitas yang disediakan seperti leg rest dan sleeper.

Martin memprediksi jumlah pemudik melalui Terminal Mandalika akan naik 5 hingga 10 persen pada arus mudik Lebaran 2026. “Kita prediksi kenaikan jumlah penumpang 5 persen hingga 10 persen peningkatannya,” ujarnya.

Puncak arus mudik melalui Terminal Mandalika diperkirakan terjadi pada H-4 dan H-3 Lebaran. Sedangkan, puncak arus balik diprediksi pada H+6 atau H+7, bertepatan dengan usainya libur Lebaran.

Total armada bus yang melayani arus mudik di terminal terbesar di NTB ini mencapai 161 unit, terdiri dari 61 bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan 100 bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Bus-bus ini melayani tujuan ke sejumlah kota di tanah air, mulai dari Jakarta, Surabaya, Malang, Bali, serta sejumlah kota dan kabupaten di NTB, seperti Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, dan Kota Bima.