Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menyoroti serius kondisi 31 titik ruas jalan provinsi yang mengalami kerusakan baru. Dari jumlah tersebut, 13 titik di antaranya berada di Pulau Sumbawa, yang memerlukan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi NTB.
Lalu Muhamad Iqbal mengungkapkan bahwa temuan kerusakan ini didapat setelah dirinya melakukan peninjauan langsung ke Lombok dan Sumbawa. “Jadi, kemarin saya turun di Lombok dan Sumbawa ternyata kita menemukan ada 31 titik kerusakan baru jalan provinsi dan tentu ini membutuhkan perhatian serius, terutama jalan di Pulau Sumbawa itu banyak titik kerusakan-nya,” ujar Gubernur di Mataram, Sabtu.
Pembangunan infrastruktur jalan, khususnya untuk menunjang konektivitas dan jalur logistik, menjadi prioritas utama bagi Pemprov NTB. Pada tahun 2025, sejumlah ruas jalan provinsi telah direkonstruksi dan diperbaiki, termasuk di Pototano serta beberapa wilayah di Lombok.
Namun, pada tahun 2026, Pemprov NTB kembali menemukan 31 titik kerusakan baru yang membentang sepanjang kurang lebih 40 kilometer. Kondisi ini menjadi tantangan baru dalam upaya menjaga kualitas infrastruktur jalan di daerah tersebut.
Tantangan Teknologi Aspal di Pulau Sumbawa
Khusus untuk Pulau Sumbawa, Miq Iqbal, sapaan akrab Gubernur, menyatakan bahwa pembangunan dan pemeliharaan jalan provinsi di sana tidak lagi memungkinkan menggunakan teknologi aspal. Hal ini disebabkan oleh banyaknya aliran sungai baru serta genangan air yang berpotensi merusak struktur jalan secara berkelanjutan.
“Kita lihat di Pulau Sumbawa banyak aliran sungai baru yang sangat berpotensi merusak kondisi jalan, kedepannya sepertinya sudah tidak relevan lagi menggunakan teknologi aspal untuk jalan di Sumbawa,” ucapnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemprov NTB kini tengah berupaya mencari formula dan teknologi baru yang lebih adaptif untuk menggantikan aspal, khususnya di Pulau Sumbawa. Pencarian ini juga mempertimbangkan keterbatasan anggaran daerah.
“Mengingat kemampuan keuangan daerah yang terbatas bila di estimasi-kan pembangunan jalan sepanjang satu kilometer menelan biaya Rp5 miliar dengan panjang kerusakan jalan ini, Pemprov NTB harus mengalokasikan anggaran yang cukup besar, kita harus mencari teknologi yang tepat untuk menggantikan aspal tetapi biayanya juga tidak terlalu mahal,” jelas Miq Iqbal.
Upaya ini diharapkan dapat menemukan solusi jangka panjang yang efektif dan efisien untuk mengatasi masalah kerusakan jalan di Pulau Sumbawa, sekaligus memastikan konektivitas dan kelancaran logistik tetap terjaga.
