Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memerintahkan intervensi pasar secara masif untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok yang masih tinggi, bahkan di atas harga acuan pembelian (HAP), hingga usai Lebaran mendatang. Instruksi ini menyusul pantauan harga di sejumlah pasar tradisional yang menunjukkan kenaikan signifikan, terutama menjelang Idul Fitri.

Pantauan pada Minggu, 22 Februari 2026, atau memasuki hari kelima bulan Ramadan, menunjukkan sejumlah komoditas pokok masih bertahan di level tinggi. Cabai, misalnya, berkisar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram, sementara bawang merah mencapai Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per kilogram. Telur ayam ras terpantau Rp31 ribu per kilogram dan daging ayam potong Rp40 ribu per kilogram.

Selain itu, harga sayuran seperti sawi, kol, dan bayam berada di kisaran Rp5.000-Rp7.000 per kilogram, dan beras medium Rp14 ribu-Rp15 ribu per kilogram.

Fatimah (45), seorang pedagang sembako di Pasar Dargo, Kota Semarang, mengungkapkan kekhawatirannya. “Harga barang kebutuhan masih tinggi, bahkan mungkin akan naik kembali jelang lebaran mendatang,” ujarnya.

Senada, Nana (50), pedagang grosir bawang di Pasar MAJT Kota Semarang, menjelaskan bahwa pasokan bawang merah berkurang akibat hujan yang masih mengguyur sejumlah sentra bawang di Jawa Tengah, seperti Brebes, Pati, Demak, Grobogan, dan Temanggung. Kondisi ini membuat harga tetap tinggi.

Di Pasar Ungaran, Kabupaten Semarang, Suryanto, seorang pedagang, menambahkan bahwa peningkatan kebutuhan barang selama bulan Ramadan turut mendongkrak harga. “Stok ada tetapi kebutuhan barang pada bulan Ramadan ini meningkat, sehingga harga bertahan tinggi, bahkan khusus cabai harga masih tinggi terutama jenis cabai rawit merah yang mencapai Rp80 ribu-Rp90 ribu, sedangkan cabai jenis lain berkisar Rp50 ribu-Rp65 ribu per kilogram,” kata Suryanto.

Menyikapi kondisi ini, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan pentingnya intervensi pasar. “Harga barang kebutuhan mulai stabil, tetapi ada sejumlah barang kebutuhan diatas HAP, maka saya perintahkan Direktur Jawa Tengah Argo Berdikari (JTAB) untuk menggelar operasi pasar yang langsung ditindaklanjuti di 308 titik hingga Maret mendatang,” tegas Ahmad Luthfi usai blusukan di Pasar Projo Ambarawa.

Ia menambahkan, intervensi pasar yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertujuan menjaga daya beli warga, terutama menjelang Lebaran saat kebutuhan masyarakat meningkat.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pasokan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Sri Broto Rini, menjelaskan bahwa meskipun Jawa Tengah mengalami surplus pangan, terutama beras, permintaan yang meningkat sejak awal Ramadan telah mendorong kenaikan harga. “Ketersediaan 12 komiditas strategis pangan di Jawa Tengah aman di bulan Ramadan ini, neskipunvada kenaikan pada sejumlah barang kebutuhan,” tuturnya.

Sri Broto Rini juga mengidentifikasi lonjakan harga di provinsi lain sebagai salah satu pemicu kenaikan harga cabai dan bawang merah di Jawa Tengah. “Kenaikan harga kebutuhan terutama cabai dan bawang merah, karena didorong lonjakan harga di provinsi lain seperti cabai di Jakarta menyentuh Rp100 ribu per kilogram, sehingga harga di pasaran di Jawa Tengah ikut terdongkrak naik,” jelasnya. Ia optimistis, “Dengan operasi pasar diperkirakan segera akan kembali stabil.”