Selebritas Tasya Kamila kembali menjadi sorotan publik setelah seorang TikToker bernama Gheovanny Methamia melontarkan kritik pedas terhadap laporan transparansi kontribusinya sebagai alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Kritik tersebut disampaikan Gheovanny melalui akun TikToknya pada Selasa, 24 Februari 2026, dan dengan cepat menjadi viral. Ia menilai kontribusi yang dipaparkan mantan penyanyi cilik itu tidak istimewa dan bahkan disebutnya sebagai “sampah”.
Gheovanny Methamia: “Kontribusinya Sampah!”
“Semua anak LPDP itu heboh-heboh sampah, sampah-sampah, ini bener-bener ya kontribusinya sampah nih ya,” ujar Gheovanny dalam video yang kini ramai diperbincangkan.
Kritik tajam ini muncul setelah Tasya Kamila mengunggah rincian berbagai kontribusinya selama masa bakti LPDP, meliputi gerakan lingkungan, pemberdayaan pemuda, hingga perannya sebagai pembicara di berbagai seminar.
Kontribusi Disebut Mirip Program CSR Kantor
Gheovanny secara spesifik menyoroti poin mengenai gerakan akar rumput (grassroot movement) melalui yayasan Green Movement Indonesia yang dijalankan Tasya.
“Lu tahu nggak, CSR di kantor gua itu juga bikin hal-hal kayak gini. Nggak pakai LPDP. Semua ibu-ibu kerja itu juga banyak melakukan kontribusi melalui CSR company, melalui apa dan yang lain-lainnya. Nggak pakai uang rakyat, tapi bayar pajak,” sindirnya.
Ia mempertanyakan nilai lebih dari kontribusi Tasya yang menurutnya tidak memerlukan pendidikan tinggi di luar negeri, apalagi dari Columbia University.
“Coba deh LPDP kalau nerima kontribusi itu yang lebih real. Butuh researcher, butuh ekonom, butuh engineer, semuanya lebih real,” tegas Gheovanny.
“Nggak Perlu Columbia University!”
Poin lain yang menjadi sasaran kritik keras Gheovanny adalah kontribusi Tasya dalam “memberdayakan pemuda Indonesia melalui talkshow, seminar, workshop”.
“Itu mah bisa dikerjain sama, aduh gila lah ini. Semua orang bisa kerjain hal kayak gini. Nggak perlu Columbia University, serius deh gue, gila!” ucapnya.
Menurut Gheovanny, kegiatan semacam menjadi pembicara seminar atau mengadakan workshop adalah hal biasa yang dapat dilakukan banyak orang, termasuk para pekerja kantoran dan aktivis sosial yang tidak menerima beasiswa negara.
Respons Publik dan Perdebatan Warganet
Video kritik Gheovanny memicu perdebatan sengit di kalangan warganet. Sebagian mendukung pandangan tersebut, berpendapat bahwa kontribusi Tasya memang terlihat umum dan kurang memberikan dampak struktural yang signifikan.
- “Sumpah tadi gue dalam hati “Tasya serius nulis begini?”,” kata seorang netizen.
- “pandawara lebih nyata hasilnya ketimbang lulusan LPDP,” ujar lainnya.
- “kek proker KKN jir ekwkwkwkkw,” cibir lainnya.
- “Tasya Kamila bukannya dia orang kaya, ya? Kok bisa dapat beasiswa 🙏. Maksudku, banyak pemuda/i dari kelas menengah ke bawah yang pintar dan amanah, tapi kenapa gak diambil dari mereka aja ya? 🙏. (Maaf kalau pertanyaannya terbilang awam, soalnya aku masih awam perihal ini. Makasih sebelumnya)” kata netizen lain mempertanyakan.
- “Itu cuma jobdesk anak organisasi kampus,” ujar lainnya mencibir.
- “Paling bener lpdp buat nakes, dosen, dan guru. Udah pasti balik ke indo dan upgrade ilmu nya,” tambah warganet lain.
Tasya Kamila Telah Menunaikan Kewajiban
Sebelumnya, Tasya Kamila telah membeberkan secara rinci berbagai kontribusinya selama masa bakti LPDP 2018–2023. Ia menegaskan komitmennya untuk kembali ke Indonesia pascastudi dan memanfaatkan platformnya sebagai figur publik untuk mengedukasi masyarakat.
“Siapapun kita, memiliki tempat untuk berkontribusi, asal kita mengusahakannya. Termasuk kami, para Ibu Rumah Tangga,” tulis Tasya dalam unggahannya.
Hingga berita ini diturunkan pada Rabu, 25 Februari 2026, Tasya Kamila belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik dari Gheovanny Methamia. Publik masih terus memperdebatkan bentuk kontribusi ideal yang seharusnya dihasilkan oleh alumni beasiswa bergengsi LPDP.
