berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang wilayah Buol, , pada Jumat, 20 Februari 2026, pukul 14.30 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera merilis pernyataan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami, menenangkan kekhawatiran masyarakat di pesisir.

Pusat gempa teridentifikasi berada di laut, sekitar 60 kilometer Barat Laut Buol, pada koordinat 1.05 Lintang Utara dan 121.50 Bujur Timur. Kedalaman gempa yang sangat dangkal, yakni 10 kilometer, menjadi salah satu faktor utama mengapa guncangan dirasakan cukup kuat di beberapa daerah.

Guncangan Dirasakan dan Imbauan BMKG

Menurut laporan BMKG, guncangan gempa dirasakan dengan intensitas IV MMI (Modified Mercalli Intensity) di Buol, yang berarti banyak orang merasakan, benda-benda bergoyang, dan jendela bergetar. Sementara itu, di Toli-Toli, guncangan dirasakan pada skala III MMI, serupa dengan getaran truk besar yang melintas. Bahkan, getaran lemah dengan intensitas II-III MMI juga dilaporkan terasa hingga ke Gorontalo.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, menjelaskan karakteristik gempa ini. “Meskipun magnitudo cukup besar, gempa ini merupakan gempa dangkal dengan mekanisme sesar geser yang tidak berpotensi memicu tsunami. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Dampak Awal dan Respons Pemerintah Daerah

Pasca-gempa, warga di Buol dan sekitarnya dilaporkan panik dan berhamburan keluar rumah untuk mencari tempat yang lebih aman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol segera melakukan pendataan awal di lapangan. Laporan sementara menyebutkan adanya beberapa retakan minor pada dinding rumah warga dan fasilitas umum, namun belum ada laporan kerusakan struktural yang signifikan. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun luka berat akibat gempa ini.

BPBD Buol juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan hanya merujuk pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG dan pemerintah daerah. Wilayah Sulawesi memang dikenal sebagai daerah rawan gempa karena posisinya yang berada di pertemuan lempeng tektonik Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia, sehingga aktivitas seismik sering terjadi.