Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah (Sulteng) menerima kunjungan FKUB Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), di Palu pada Senin, 11 Mei 2026. Pertemuan ini bertujuan untuk membahas strategi penguatan kerukunan umat beragama di wilayah Sulteng, yang menjadi rujukan bagi FKUB Pangkep.
Ketua FKUB Sulteng, Prof. Zainal Abidin, mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan inisiatif dari FKUB Pangkep untuk mempelajari program-program yang telah dijalankan di Sulteng. “Mereka datang mempelajari strategi dan program FKUB Sulteng dalam menjaga serta merawat kerukunan umat beragama,” kata Zainal Abidin usai menerima kunjungan tersebut.
Zainal Abidin menegaskan pentingnya eksistensi FKUB di tengah masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga kerukunan dan kedamaian. Hal ini krusial mengingat ancaman intoleransi dan radikalisme masih terus berkembang, termasuk melalui media sosial. Ia mencontohkan kasus penangkapan delapan terduga teroris di Parigi Moutong (Parimo) dan Poso baru-baru ini sebagai bukti bahwa kelompok intoleran masih aktif bergerak di Sulteng.
Menyikapi hal tersebut, FKUB Sulteng secara proaktif melakukan berbagai upaya. “Peran FKUB Sulteng terus melakukan sosialisasi deradikalisasi secara masif kepada komponen masyarakat,” ujarnya.
Salah satu inovasi FKUB Sulteng adalah menjalin kerja sama dengan Polda dan Korem 132/Tadulako. Kerja sama ini berfokus pada pelatihan moderasi beragama bagi Babinsa dan Bhabinkamtibmas, yang merupakan ujung tombak keamanan di desa. “Jika aparat di desa memahami moderasi beragama, mereka bisa menjelaskan kepada masyarakat tentang pentingnya kerukunan. Ini akan memudahkan FKUB tanpa harus turun langsung ke seluruh desa,” jelas Zainal Abidin, yang juga Rais Syuriah PBNU.
Selain itu, FKUB Sulteng juga memiliki program “ngobrol pintar tentang kerukunan” atau yang dikenal dengan “ngopi bareng”. Program ini dilakukan di warung kopi dengan pendekatan santai, memungkinkan masyarakat berdiskusi mengenai moderasi beragama. “Dalam waktu dekat kami juga melaksanakan ngopi bareng bersama gubernur menghadirkan kepala daerah, tokoh lintas agama, dan pimpinan majelis keagamaan untuk berdiskusi tentang penguatan kerukunan di daerah,” tambahnya.
Zainal Abidin menekankan bahwa tujuan utama FKUB bukan sekadar meraih penghargaan Harmony Award dari Kementerian Agama, melainkan menciptakan masyarakat yang harmonis, toleran, dan mampu hidup berdampingan secara damai meski berbeda keyakinan. “Diharapkan dari hasil program kami usung, masyarakat saling menghormati perbedaan, bukan mempersoalkan perbedaan,” harapnya.
Meskipun tantangan menjaga kerukunan di Sulteng cukup besar, mengingat daerah ini pernah mengalami konflik, dukungan pemerintah daerah terhadap FKUB dinilai sangat baik, termasuk dari sisi pembiayaan dan rencana pembangunan gedung baru. FKUB Sulteng juga telah menerbitkan buku berjudul Moderasi Beragama: Telaah Agama-Agama sebagai referensi penguatan pemahaman moderasi beragama di masyarakat.
Sementara itu, Ketua FKUB Pangkep, Waqi Murtala, menyatakan ketertarikannya untuk mengadopsi pola kemitraan FKUB Sulteng dengan berbagai lembaga pemerintah. Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah setempat terhadap FKUB sebagai garda terdepan menjaga kerukunan umat beragama. “Apa yang kami dapatkan di Sulawesi Tengah dipadukan dengan program yang sudah kami usung, dengan harapan kerukunan di Pangkep semakin baik,” tuturnya.
