Moskow – Sebanyak 200 kapal tanker dilaporkan terjebak di pintu masuk Selat Hormuz, Teluk Oman, pada Selasa (3/3/2026). Angka ini menambah total kendaraan yang terhenti menjadi 300 unit, di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melumpuhkan jalur vital pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Data MarineTraffic yang dianalisis RIA Novosti menunjukkan, saat ini tidak ada satu pun kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Selat ini merupakan penghubung strategis antara Teluk Persia, Teluk Oman, dan Laut Arab.

Secara geografis, pantai utara Selat Hormuz dikuasai oleh Iran, sementara pantai selatannya terbagi antara Uni Emirat Arab dan Oman.

Penyebab utama terhentinya lalu lintas maritim ini adalah konflik yang kian memanas di Timur Tengah. Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan menimbulkan korban sipil. Iran tidak tinggal diam. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangkaian serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS yang tersebar di seluruh Timur Tengah.

Eskalasi serangan terhadap Iran ini terjadi meskipun Washington dan Teheran sebelumnya terlibat dalam pembicaraan mengenai program nuklir Iran di Jenewa, dengan mediasi dari Oman.

sumber gambar: gesit.id